TELKOMSEL, TUNGGU KAMI DI PENGADILAN,

 


"Sudahlah, bang.. Saya juga Jokower, kita satu barisan.."

Begitu telpon yang saya terima. Saya tahu, saya ingin dihalangi untuk tidak menuntut Telkomsel. Saya jelas heran, apa hubungannya saya mendukung Jokowi dengan kebocoran data pribadi yang saya alami ? 

Bocornya data pribadi saya karena lalainya Telkomsel, itu sangat berbahaya buat saya sekeluarga. Saya selama beberapa tahun ini sedang melawan radikalisme di negeri ini. Dan ketika nyawa anak2 saya terancam, jelaslah saya sebagai ayah ngamuk seperti banteng yang luka.

Apakah "si Jokower" itu akan bertanggungjawab, jika anak2 saya diculik seperti kasus Ninoy dulu misalnya ?

Pasti tidak, karena buat mereka itu urusan pribadi saya. Sedangkan mereka sudah enak pada posisi Komisaris di perusahaan besar tanpa ada perasaan terancam, karena punya koneksi untuk mendapat jabatan.

Dimana empati ? Hilang.

Yang ada hanya simpati palsu seolah berduka, tapi tangannya terus mencegah saya untuk menuntut perusahaan tempat mereka sekarang menikmati kejayaan.

Saya sudah mengira, sesudah ini akan ada framing busuk yang mereka sebarkan, bahwa saya "mata duitan". Tangan-tangan mereka berupa akun anonim gentayangan membangun perspektif bahwa saya menuntut Telkomsel untuk kepentingan saya pribadi, supaya saya kaya raya.

Mereka lupa, kalau pengen kaya, mudah saja bagi saya sejak lama dengan menulis fitnah karena dibayar orang. Ngapain pusing2 nuntut perusahaan besar segala ? Udah pasti prosesnya lama, dan belum tentu saya menang. Perusahaan mereka duitnya ratusan trilyun rupiah, bisa melakukan apa saja. Saya sendirian, cuma ditemani Muannas Al Aidid yang setia.

Karena itulah saya menggandeng pengacara ternama Otto Hasibuan. "Hancur hancur sekalian.." pikir saya. Tidak ada cara lain menampar kesombongan perusahaan besar selain dgn menghadapkan mereka pakai tangan orang pintar juga.

Perjuangan menuntut Telkomsel ini jalan panjang dan berbahaya. Jangan cuman mikirnya 1 Triliun doang. Itu angka psikologis untuk membuat efek jera, supaya mereka mau berpaling dan waspada. Kalau gak bisa diajak joget, setidaknya goyang lah..

Kemenangan dalam tuntutan seperti ini, bisa dibilang 1000 : 1. Yang kalah di pengadilan jauh lebih banyak. Tapi gak masalah, yang dinilai adalah usaha. Hasil itu ditangan Tuhan..

Kasus ini sebenarnya sebuah pesan kepada banyak orang. Jangan pernah takut menggunakan hak kita.

Sebagai pelajaran, bahwa sekecil-kecilnya semut, bisa menggigit seekor gajah, sebesar apapun bentuknya. Siapa tahu gua menang. Dan akan banyak lagi orang terbuka matanya dan berani menuntut haknya karena kelalaian Telkomsel. Gua yakin, kasus gua ini cuman satu diantara ribuan kasus lainnya, hanya mereka tidak bisa bersuara karena telinga sang tuan kaya raya yang tuli karena merasa besar..

Sebentar lagi pasti muncul "Jokower Jokower" lainnya yang akan sibuk propaganda utk menghancurkan nama saya, demi membela kepentingan mereka..

Bagi gua ini sejarah. Takut ? Pasti. Menyerah ? Ow, tidak. Kita lihat sampai dimana ujungnya..

Seruput kopinya..

Denny Siregar


Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA