TANAH, AIR,API DAN UDARA,

 


Hai langit malam, ini masih terlalu cepat untukmu berlalu, meski awan sehari membuatku sesak pada langkah-langkah ini. Hai angin pagi, membunuh letih setelah sehari lelah bertarung, kini embun menatap jatuh pada dahan kesunyianku, dan mengatakan cinta tak hanya cukup sebuah rindu. 


Dan terkadang kita terlalu berdamai dengan angan-angan muluk menenangkan sebuah pertarungan rasa yang sebenarnya kita Cemas! Bukan aku sudah tak perduli kepada apa itu kehidupan dunia, namun sungguh mata ini sudah kering untuk meneteskan air mata, ketika kita hanya berjejak saling menyilang kaki nyali.


Berjalan seolah-olah kita pahlawan membawa sekuntum kemenangan! Aku masih melihat banyak lorong-lorong dingin dipeluk oleh mereka orang-orang pinggiran. Mendekap anaknya yang masih bayi agar tak tertekan tangis karena perutnya lapar.


Aku juga masih melihat banyak tangis-tangis bisu, melolong berteriak :


Kita yang terampas

Kita yang terbuang

Kita yang tak dianggap

Dan kita yang dihempaskan oleh kenyataan.


Karena mimpi-mimpi kita terlalu dalam.

Pada sebuah rumah dan kedamaian yang selalu ingin kutuju :


Hati ini tak ingin lekas patah merentas senyap, dan setidaknya aku sadari ini hanya sementara.

Tulisan ini sudah dimuat sebelumnya di laman Kompasiana
Tanggal 9 September 2020


Tanah, Air, Api, dan Udara


Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,