PROPAGANDA ISU SARA DI EROPA DAN KITA HARI INI.

 


"Ayo sini..,masuk, masuk!" Tergopoh budeku menyambut 7 orang keponakannya. Mereka adalah anak, mantu dan cucu bude dari suami atau almarhum pakdeku. Mereka adalah sebagian dari korban kerusuhan Poso ditahun 1998 dan 1999.
Tiga puluh tahun sebelumnya, pakde dan adik laki-lakinya memutuskan merantau ke Sulawesi dari Tulungagung kota kelahirannya di Jawa timur. Bersama dengan istri dan anak-anaknya yang masi kecil, mereka memutuskan Poso sebagai tujuannya.
10 tahun kemudian, pakde pindah ke Manado, dan sukses. Sementara adiknya, masih tetap di Poso dan juga sukses.
Entah karena sebab apa, Poso yang tadinya daerah aman tiba-tiba kacau. Perkelahian warga dengan aroma sara tiba-tiba merusak apa itu harmonis sebuah masyarakat. Adik pakdeku meninggal karena kerusuhan itu.



Seluruh harta benda telah terbakar dalam amuk masa yang tak mereka paham bersamaan dengan rumah yang mereka tinggali. Aset dalam bentuk tanah kebun yang luas tak membuat keluarga adik pakde mampu terus bertahan. Mereka memutuskan pergi dari Poso.
Berita meninggal hingga kacaunya keluarga adik suami, membuat budeku mencari banyak cara demi menyelamatkan keluarga itu. Harta tak sedikit bude keluarkan demi selamat keluarga itu.
Tangis bude terdengar histeris menyaksikan kondisi sepupu dan adik iparnya yang sangat memprihatinkan. Kumal, kusut, bau keringat bercampur debu dengan tampak beberapa luka mengering pada banyak tubuh mereka entah karena sebab apa, semakin membuat unsur dramatis.
Pada awalnya, mereka semua menginap dalam atap yang sama, rumah bude yang cukup luas dengan tanah kebun dengan tanaman cengkeh luas yang dirintis lebih dari 30 tahun yang lalu.
Mengungsi dan lari dari daerah konflik, tak membuat ada rencana dapat dibuat, mereka tak memiliki tujuan apapun kecuali menyelamatkan diri. Mencari tempat baru dan aman demi hidup baru.
Iba sangat mendalam dengan kondisi keluarga suaminya, ijin membangun rumah pada sebagian tanahnya diberikan. Demikian pula sepetak lahan demi berkebun.
Setahun, dua tahun, tak terasa tujuh tahun berlalu. Lima anak lahir dari dua pasangan ponakan bude. Rumah yang dulu bersifat darurat kini dibangun makin luas demi dapat menampung jumlah bertambah.
Senang mengumpulkan tetangga sesama korban dengan acara keagamaan pada walnya adalah demi saling menguatkan.
Bude tidak melihat itu sebagai gangguan, namun anak dan cucu bude mulai terganggu dan tak senang. Perlahan namun pasti, gesekan mulai terjadi.
Awalnya adalah masalah gula. Keluarga itu meminjam gula demi tamu yang datang dan minum yang harus disediakan. Anak bude marah.
Perselisihan membesar dan merembet pada banyaknya tamu. Tamu yang mendengar bercerita keluar. Entah bagaimana ceritanya, apa yang kemudian berkembang diluar adalah bude dan anak-anaknya dituduh telah menghina agama dan melarang kegiatan keagamaan.
Bude dan anak-anaknya menjadi korban atas kebaikannya dan siapa yang mengorbankan adalah mereka yang ditolong dengan dibantu alat berupa agama?
Benarkah adik bude dan para keponakannya menikmati itu?
Benarkah asumsi, persepsi dan kemudian disorientasi sering mengganggu nalar kita?
Demikian cerita sama dengan hampir memiliki logika yang sama terdengar dari benua biru. Kini, kitapun dibuat bingung dengan demo anti Islam di Eropa.
Mudah bagi kita marah dan buru-buru berdiri menentukan pihak mana yang benar berdasarkan persepsi saat disorientasi membuat kita tak tahu berpegang pada apa.
Benarkah karena faktor agama?
Kenapa bukan kita tak bercuriga pada adanya dalang dimana mereka para kurang ajar itu mencoba menggunakan agama?
Sama dengan kerusuhan Poso yang langsung terjadi tepat setelah reformasi dan diktator itu runtuh, di Timur tengah Arab spring adalah tentang kerusuhan kompak yang melanda seluruh kawasan itu dan lahir negara kacau Libya, Suriah, Yaman, hingga Nigeria.



Tak adakah dalang?
Sejak saat itu, jutaan pengungsi menyerbu Eropa. Seperti bude yang baik, mereka menerima atas dasar kemanusiaan.
Apakah para pengungsi itu telah berbuat tak tahu diri sehingga membuat warga Eropa marah? Tak bijak membuat asumsi berdasar persepsi tak sehat, apalagi disorientasi memang sedang dibuat.
Ya...,kita memang sedang dibuat bingung, dan ketika kebingungan melanda kita, pada apa harus berpegang, biasanya agama hadir.
Tema sedehana adalah Iman akan menolong budi karena indra tak lagi dapat diandalkan, indrawi kita sedang dalam masalah. Iman akan memberi jawaban ketika logika tak lagi dapat memberi jawaban. Itu premis agama.
Apa yang terjadi? Temanku, saudaraku yang seiman adalah prioritas. Kenapa? Di kitab ada tertulis itu.
Lalu dengan mudah kita menempatkan warga Eropa sebagai musuh. Dan karena kita tak mampu berbuat apapun atas kemarahan kita, maka mereka yang dekat dengan orang Eropa disini, kita musuhi. Siapa? Yang seagama dengan orang Eropa?
Jadilah kita terjebak pada hal tidak logis dan namun kita merasa benar.
Dan...,teriakan perang salib menggema. Perang Islam Kristen jaman bahula yang dicap sebagai perang kebodohan.
Penasihat Presiden Turki Tayyip Erdogan di Partai AK yang berkuasa, Yasin Aktay menuduh Kanselir Jerman Angela Merkel sengaja menyerukan “Tentara Salib" di Mediterania timur, agar semua negara Uni Eropa mendukung Yunani.
Gila? Bodoh? Provokoasi? Bagian dari dalang?
Seharusnya, itu bukan tentang kita. Lima tahun sudah kita dibuat bingung dengan kondisi rasa kebangsaan kita yang memudar. Isu agama dijadikan perang narasi sebagai satu-satunya hal benar yang harus dimaknai. Kebangsaan dan membela negara bukan ajaran agama.
HTI dengan antek-anteknya telah meracuni banyak saudara kita dan kita sempat hampir jatuh.
Beruntung, perlahan tapi pasti, racun itu menguap seiring dengan fakta yang makin kuat adanya teriakan agama bukan Arab menjadi pemahaman nalar yang dapat diterima.
Agama bukan budayanya menjadi satu kebenaran tersendiri yang secara perlahan justru membuat bangunan kebangsaan ini menjadi makin kokoh.
Demikian halnya juga terjadi di Eropa. Mereka dalam waktu sangat cepat dipaksa menerima budaya asing yang disembunyikan dalam agama. Arab dan Islam adalah sama.
Rasa bingung dan kemudian membuat asumsi bahwa Arab adalah sama dengan Islam telah membuat mereka terjebak pada pemahaman yang salah tentang Islam.
Dalam hal seperti ini kita boleh berbangga karena telah menjadi setingkat lebih pintar, tak perlu ragu kita ungkap. Ada perjuangan yang panjang telah kita lalui dan berhasil, tak salah bila itu kita banggakan.
Bersikap dewasa dengan pemikiran bahwa kita yang mayoritas Islam saja hampir terjebak dan gagal paham karena propaganda mereka yakni Islam adalah Arab, apalagi mereka, warga Eropa yang asing.
Bukankah masih banyak saudara kita yang gaga paham dan masih memaknai agama dari bajunya? Dari budayanya? Dari bahasanya?
Ya..,mereka adalah korban tak mengerti yang tak harus kita musuhi. Demikian juga mereka yangdi Eropa to?
.
.
.
RAHAYU

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,