KOMPAS DAN PAK JAKOB OETAMA

 


Antara tahun 1983 - 1984 saya beberapa kali menulis untuk koran pagi 'Kompas' dan saya sangat bangga. Siapa tidak? Sejak dulu hingga kini penulis luar sulit menembus 'Kompas'.
Sebelum mengirim tulisan via pos, saya membaca ulang berkali kali. Di dalamnya, tiga - empat halaman ketik dua spasi, saya lem dan sambung sambung seperti layangan - ciri khas tulisan dari luar masa itu.
Beberapa kiriman tulisan saya juga dikembalikan dengan catatan dianggap tidak memenuhi syarat/ kriteria.

Itu yang menyebabkan saya ada ikatan emosional dengan 'Kompas'. Meski saya tak pernah bekerja di grup perusahan media ini, saya ada sejarah dengan media ini. Sejarah zaman perjuangan.
Kenangan tak terlupakan ketika mendapatkan honor pertama dari tulisan pertama di halaman resensi buku 'Kompas'. Saya pamerkan ke mana mana dan akibatnya teman teman minta traktir. Pada akhirnya malah nombok! Tapi saya puas. Setelahbtulisan bis menembus Kompas saya merasa berbeda dengan saya yang sebelumnya
Saya masih teringat ketika mengambil honor yang ke sekian kalinya di Palmerah, Jakarta Barat kepergok teman 'Kompas' yang sama meliput di lapangan.
"Lho, kok ada di sini?" tanyanya dengan ekspresi terkejut tapi ramah.
"Mau ambil honor, " jawab saya mantap. Sebelumnya honor dikirim via wesel.
"Oh, ya? Sempat nulis di Kompas juga? " dia heran. Saya senyum menikmati kemenangan.
Sejak masih luntang lantung dan menekuni dan total hidup menulis masih dalam bentuk minpi dan cita cita saya melanggani 'Kompas'.
Saya bekerja sebagai waiter di restoran AH - Blok M sembari terus mengasah kemampuan menulis dan menumpuk halaman koran sebagai pengganti kasur tempat tidur saya - dari kayu tanpa kasur - di kamar kost murah di kawasan pinggiran Jl. Senopati.



Ketika ada media ibukota membuka lowongan, saya memberanikan diri melamar dan tesnya sangat mudah. Lalu bertahan di sana bersama anak perushaannya selama 36 tahun sampai pensiun.
Tapi 'Kompas' tetap menjadi rujukan baik sebagai pribadi atau bagian dari perusahan media tempat saya bekerja. Meski kantor melanggani semua koran yang terbit, di rumah saya juga langganan sendiri. Saya juga langganan majalah 'Tempo'.
KORAN KOMPAS seharusnya tidak terbit lagi sejak pembredelan 1978, dan anak anak milenial tidak kenal grup Kompas Gramedia di hari ini - seandainya tidak ada Pak Jakob Oetama.
Pada dini hari 5 Februari 1978, di Palmerah, Jakarta Barat, terjadi pembicaraan serius antara dua pendiri Kompas: P.K. Ojong dengan Jakob Oetama mengenai tawaran dari penguasa Presiden Soeharto, jika ingin terbit kembali setelah dilarang terbit (dibredel).
Harian 'Kompas', salah satu dari 12 koran dan majalah yang dilarang terbit sejak 21 Januari 1978, diperbolehkan terbit kembali dengan syarat harus bersedia menandatangani pernyataan tertulis. Isinya permintaan maaf sekaligus berjanji tidak memuat tulisan yang menyinggung penguasa.
Permintaan maaf itu merupakan suatu pengakuan bersalah. Disertai suatu sikap yang menyatakan kesetiaan dan kepatuhan kepada Presiden Soeharto.
Saat itu, PK Ojong selaku pendiri menolak untuk meminta maaf kepada pemerintah Suharto sebagai syarat agar 'Kompas' terbit lagi.
"Mati hari ini atau nanti sama saja. Jangan minta maaf! " tegas PK Ojong. Beda dengan Jacob Oetama, PK Ojong type garis lurus, keras hati dan tak mau kompromi. Tulisan tulisannya juga lugas.
Namun Jakob Oetama berpendapat lain. Dengan menanggung banyak karyawan ada banyak cara perjuangan. Dan media yang mati - sudah jadi mayat - tak bisa diajak berjuang, begitu kira kira argumennya.
Maka empat kesepakatan yang diminta pemerintah ditandatanganinya dan Kompas bisa terbit lagi, berkembang bahkan menjelma menjadi raksasa media. Seperti sekarang.
Sejak 1970an 'Kompas' sudah menjadi koran terkemuka dan terus bertahan hingga 2005 dengan tiras puncak hingga 650 ribuan per hari. Iklannya berlimpah.
Anak perusahannya juga beranak pinak.
SEJUJURNYA saya agak kesulitan mengikuti gaya tulisan Pak Jakob Oetama di kolom maupun di Tajuk Rencana. Kelewat halus, samar dan berliku. Sangat berbeda dengan almarhuk PK Ojong, sebagainana terangkum di buku Kompasiana.
Namun Pak Jakob punya daya pukau sendiri saat berpidato. Di panggung. Beliau orator yang membius. Runtut, anggun, jernih. Visinya jelas.



Saya teringat lagi saat Ketua PWI Pusat H. Harmoko masuk Kabinet di tahun 1983 dan syukuran insan pers di auditorium RRI, Jakarta. Pak Jakob Oetama memberikan pidato yang memukau hadirin. Teouj tangan menggemuruh saat Pak Jakob turun panggung.
Bahkan pemimpin koran 'Merdeka' BM Diah yang melanjutkan kata sambutan memberi pesan khusus, "Pak jakob tolong naskah pidatonya dimuat di Kompas, ya. Agar diketahui masyarakat Indonesia. Sangat bagus, " pintanya disambut tepuk tangan.
Sejak saat itu dari Kompas saya tak hanya melanggani korannya melainkan juga rutin mengunjungi TB Gramedianya dan selalu membaca tulisan hal ikhwal Pak Jakob Oetama.
Kompas Gramedia menjadi kampus saya, toko toko bukunya menjadi perpustakaan saya, dimana saya menimba ilmu jurnalistik dan juga ilmu sosial lainnya.
Selamat Jalan Pak Jacob Oetama. Terima kasih untuk inspirasi dan semua tuntunan yang diberikan. Meski dari jauh. ***

Ditulis Oleh;

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,