KAMI BOCAH TUA NAKAL. APE LO, APE LO..?


Menjadi orang tua, tentu bukan tentang sekedar mampu memberi makan dan tempat berteduh. Lebih jauh lagi, jangan pula tentang berapa banyak yang harus diproduksi dari maksimal empat istri yang diwajibkan untuk mencetak kader masa depan demi manipulasi demokrasi 20 tahun kemudian.

Bukan jewer dan bukan pukul sebagai refleks ketika mereka bandel dijadikan kebiasaan demi rasa takut dan segan.
Amati, lihat, ajak bicara, kasih contoh dan masih banyak cara bagi kita mendidik anak agar menjadi pribadi hebat.
"Emang KAMI anak kecil apa?"
Secara fisik, dan kedewasaan mental, umur pasti berpengaruh. Di sisi lain, menilai masih kecil atau sudah dewasa, lihat saja dari cara berkelakuannya.
KAMI sebagai organisasi, jelas masih sangat bayi. Sama dengan bayi yang harusnya tentang susu, tak layak lontong disuapkan pada mulutnya.
Suka pamer, brasa paling jagoan, ngaku-ngaku si A adalah saudaranya, hingga "ngapusi" adalah hal wajar yang melekat pada banyak anak kecil. Ga salah dan bukan dosa harus buru-buru kita sematkan.
Bukankah KAMI isinya tentang pamer betapa hebatnya mereka? Ya, RR misalnya, tau sendiri kan kalau lagi ngomong? Bikin Indonesia semalam langsung sukses aja bisa. (Lo kira Bandung Bondowoso!!)
Bukankah GN sudah menebar ancaman sesaat sebelum KAMI dideklarasikan? Sikap jagoan di pamerkan? Namanya juga anak-anak, jangan diprotes yak!
Bukankah Ahmad Dani protes karena diaku-aku sebagai bagian dari KAMI? KAMI secara sepihak memasukkan Ahmad Dani yang dianggap hebat?
Dubes Palestina dan Meutia Hatta merasa terjebak atas kedatangan mereka pada deklarasi KAMI? Ngapusi?
Yaa...,semua sifat kekanakan memang masih melekat pada KAMI. Dan umur KAMI yang masih dalam hitungan hari memang belum layak dianggap dewasa.
"Tapi bukankah Din Samsyudin cuma bilang 'KAMI menanti tanggapan, bukan pengalihan. KAMI siap berdiskusi bahkan berdebat mengadu pikiran' itu kan? Ada yang salah?"
Seringkali, orang tua tahu apa yang lebih baik bagi anak-anaknya. Bila itu masih harus didiamkan, dan ga perlu dijawab, bagi anak smart, itu kode. Itu sinyal untuk belajar lebih giat lagi.
Itu jawaban bahwa orang tua tahu kemana arah pembicaraan mereka. Diam dan sambil nyengir dengan sebelah mata dikerlipkan, adalah cara orang tua bilang bahwa kamu sudah tahu jawaban yang kamu lemparkan. (Tau dong, klo pak Jokowi ketawa ngenyek?)
Ada dua poin utama menjadi keresahan KAMI yakni Oligarki Politik dan politik Dinasti.
Serius pak Din? Oligarki politik? Pak Jokowi itu hidup dan makan dari keringat yang keluar karena nyerut kayu, usaha sendiri pak. Lha sampeyan itu, duit pertama dapatnya dari mana, gajian to?
Anda lebih tahu apa itu oligarki politik dari jejak yang anda tinggalkan. Paling tidak, anda pernah dan bahkan terlalu sering menjadi pejabat.
Pernah menjadi Sekretaris Dewan Penasihat ICMI Pusat, Dirjen di Depnaker, Wakil Sekretaris MPR dari Fraksi Karya Pembangunan, Wasekjen DPP Golar, hingga MUI.
Fakta bahwa begitu anda lulus kuliah yakni Sarjana Muda IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Ushuluddin dengan gelar BA, tahun 1980 hingga hari ini ditahun 2020, tak ada jejak atas jeda bagi anda jauh dari birokrasi. Paling tidak ormas.
Anda lebih paham apa itu oligarki dibanding pak Jokowi.
Anda lebih fasih berbicara bagaimana oligarki politik memenjara demokrasi di mana pada praktiknya, demokrasi tidak berjalan dengan baik karena keputusan partai politik hanya ditentukan oleh segelintir orang?
Termasuk keberadaan DPR RI yang sejatinya menjadi wakil rakyat namun justru dikendalikan oligarki?
Percayalah, anda memang lebih ngerti di banding Jokowi, apalagi oligarki adalah juga cerita tentang Soeharto dimana anda pernah mencicipi manisnya jaman itu sehingga pertanyaan itu memang tak perlu dijawab apalagi didebat. Anda pasti lebih pakar dibandingkan mereka yang sudah pakar.
Woow...,sungguh hati ini terenyuh..., tks banget pak bro anda hadir saat duka, haus dan dahaga bangsa dan rakyat ini memuncak...🙄
Kemudian, anda juga prihatin sehingga perlu juga mendapat jawab soal adanya kegelisahan budaya politik dinasti yang menghalangi orang-orang berkualitas untuk turut berkontestasi dalam pesta demokrasi. Dan lalu jenengan nambahin, ujungnya, politik dinasti membuat demokrasi terciderai?
Ahhh...,sampeyan mo ngomongin anak dan mantu Presiden dan tapi pak Ketum-mu punya anak juga nyalon gak diomongi ki piye to pak?
Sudahlahh...,semua juga tahu koq pak kalau siapapun nyalon diijinkan di negeri demokrasi ini. Ga tertarik..,ya ga usah nyoblos!! Gitu aja koq repot!
"Buzzer bayaran??? Waduuuh..,pingin juga tuh ngerasain duit buzzer."
"Pak Jokowi...,bayar gw dong!! Ga asik nih pak Jokowi...!!🥺🙄"
.
.
.
RAHAYU

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,