Who wants to be saved : " Siapa Yang Mau Diselamatkan ?"


Wajar-wajar saja kalau rakyat mempertanyakan apa sih tujuan deklarasi itu? Kalau mau menyelamatkan, lalu apanya yang mau diselamatkan. Karena negara kita sampai hari ini dalam kondisi baik-baik aja kok. Tidak ada masalah, apalagi semua rakyat Indonesia baru saja memperingati 75 tahun Indonesia merdeka dalam keadaan nyaman, aman dan penuh kegembiraan.

Setahu saya dalam sebuah gerakan penyelamatan tentu memiliki persoalan krusial yang begitu rumit itupun atas desakan mayoritas rakyat dengan memperhatian situasa negara yang sudah begitu sulit untuk dikendalikan lagi. Sehingga membutuhkan langkah-langkah penyelamatan. Tapi faktanya berbading terbalik dengan yang ada diotak mereka. Bukankah pemerintahan kita yang dipimpin oleh Bapak Presiden Joko Widodo tetap berjalan secara konstitusional. 

Namun demikian sebuah negara demokrasi, tetap harus dihargai sebab setiap warga negara memiliki hak untuk berkumpul dan menyuarakan pendapatnya yang dijamin oleh konstitusi kita. Tapi mereka juga harus memahami dan menyadari bahwa situasi saat ini kita sedang menghadapi situsi pandemik Covid-19, yang membutuhkan niat baik oleh seluruh elemen bangsa ini agar bisa menjadikan mementum didalam melakukan lompatan besar menuju Indonesia maju, seperti diharapkan oleh Bapak Jokowi saat memberikan Pidato dalam sidang tahunan MPR & DPR 14 Agustus yang lalu. 

Bukan justru sebaliknya melakukan gerakan dengan tujuan memprovokasi rakyat untuk membenci pemerintah. Aneh! 


Apa yang dilakukan oleh Din Syamsuddin dan konco2nya yang konon katanya untuk mengembalikan arah perjalanan bangsa yang dianggap telah melenceng dari tujuannya sehingga menimbulkan berbagai kesulitan yang terjadi saat ini. Bahkan Kiblat bangsa sudah dianggapnya telah melenceng dengan cita-cita nasional yang sudah jauh dari arah yang benar. Karena itu menyelamatkan Indonesia adalah meluruskan kiblat bangsa kembali jalannya sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana yang telah disepakati para pendiri bangsa," kata Din Syamsuddin. Lho, lucu kiblat dan arah bangsa yang begitu mudah memunculkan narasi yang tidak jelas maknanya!

Justru Koalisi ini banyak meragukan indepedensinya. Bahkan muncul tuduhan bahwa koalisi ini tidak terlepas dari dagelan politik semata yang sengaja dimainkan oleh kelompok-kelompok yang memiliki agenda tertentu. Karena yang diselamatkan sangat tidak jelas! Sedang menyelamatkan pekonomian? juga semua negara di dunia ini sedang mengalami guncangan dahsyat bahak ada negara sudah terseok-seok dan berusaha bangkit kembali agar tidak terjatuh ke jurang resesi. Bahkan sebagian negara sudah dalam kondisi resesi seperti Singapura dan Korea Selatan. 


Jika kita jujur, tidak ada satupun negara yang aman saat ini. Angka nol persen pun sudah patut disyukuri, asalkan jangan tidak minus. Begitu kira-kira kondisi ekonomi dunia termasuk Indonesia. Nah, kalau deklarasi ini bertujuan untuk menyelamatkan Indonesia dari paham radikalisme dan khilafah, saya justru setuju sebab kondisinya sudah sangat memprihatinkan apalagi pemahaman ini terus tumbuh dan berkembang biak dinegeri ini. Dan ini sudah jelas-jelas melenceng dari kiblat bangsa yang harus dikembalikan ke jalannya sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana yang disuarakan oleh Bapak Din Syamsuddin dkk. Tapi ironisnya Koalisi ini justru sama sekali menutup mata didalam memotret fenomena yang riil yang ditengah masyarakat dimana sudah saling intimidai tidankan persekusi terus terjadi diberbagai kota karena hanya berbeda pemahaman. Ini sangat berbahaya jika terus dibiarkan tanpa adanya tindakan hukum yang tegas.


Kalau hanya seperti ini keberadaannya, maka tidak heran jika Koalisi ini sama saja gerakan yang dilandasi orang-orang yang memiliki dendam dimasa lalu dan sehingga merasa sakit hati saja dan berusaha bangkit kembali untuk sekedar hanya menginginkan mendapatkan perhatian sekaligus posisi tawar dalam panggung politik menjelang tahun 2024 nanti. 

Kalau toh sekiranya mereka-mereka memiliki niat yang baik dan tulus untuk kemaslahatan bangsa, kenapa tidak minta bertemu langsung saja dengan Bapak presiden saja, lalu sodorkan persoalan yang ada diotak kalian dan sertakan sesolusinya. Sebab Presiden kita orangnya baik dan amat bijak kok, rakyat kecil aja mau ditemui apalagi kalian adalah orang-orang hebat dinegeri ini yang dulunya pernah mendapatkan kepercayaan dalam pemerintahan tapi sayangnya tidak mampu berbuat apa-apa! Unable to do anything.


Melihat orang-orang yang ada dibalik koalisi ini mau tidak mau menimbulkan kecurigaan banyak pihak karena kemungkinan besar gerakan moral ini hanya bertujuan untuk menjaga dan menguasai warisan hasil rampokan dimasa lalu yang mereka takutkan jangan sampai warisan itu dikembalikan kenegara untuk kemaslahatan rakyat sebesar-besarnya. 

Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali membuat gerakan politik  yang bertujuan mengumpulkan kekuatan massa dan dikemas dengan beragam gelombang aksi untuk dimuculkan dengan tujuan menciptakan keresahan dan kecemasan dan kacauan ditengah masyarakat dan yang pada akhirnya tujuan sesungguhnya hanya berujung pada tuntutan “ Cabut Mandat Rakyat. Ambil Alih Pemerintahan Ke Tangan Rakyat “. Itu sangat mudah ditebak.

 

                                                 

Jika itu terjadi, maka target untuk melengserkan Jokowi akan menjadi pertarungan yang sangat mahal. Tentu saja para relawan dan pendukung Jokowi tidak mau menerima begitu saja. Apalagi ada kekuatan negara yang harus digunakan didalam mempertahankan kedaulatan negara. Paling tidak TNI & POLRI menjadi garda terdepan. Inilah yang harus dipikirkan mereka secara matang, jika tidak akan memunculkan instabilitas keamanan negara. Dan ini sangat berbahaya.

Beberapa contoh yang bisa dijadikan pengalaman dimasa lalu, seperti apa yang dialami oleh Alm. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang dulunya sama sekali tidak mau berpihak kepada mereka yang mau melengserkannya, meski beliau adalah seorang Ulama dan Tokoh NU. Organisasi Islam terbesar Indonesia. Karena Gus Dur sangat dikenal sebagai musuh Soeharto. 

 

Sama halnya dengan Megawati diera rezim Soeharto dianggap duri dalam daging bagi Soeharto. Tahun 1996, Megawati dipaksa lengser oleh Soeharto dari kursi ketua umum PDI yg akhirnya menimbulkan perpecahan ditubuh PDI dan berakhir dengan peristiwa yang dikenal KUDATULI 27 Juli 1996. Nah …sekarang target mereka adalah Jokowi. Dimasa Orde Baru beliau hanya tukang Mebel. Ketika beliau menjadi Walikota Solo, kemudian menjadi DKI 1 dan sekarang menjadi Presiden untuk masa dua periode apalagi berasal dari partai yang sejak dulu bereberangan dengan Orde Baru, maka menjadi warninglah bagi kalangan penikmat kekuasaan yang bebas melakukan kongkalikong uang rakyat dimasa lalu. Dan inilah yang sangat tidak disukai oleh kelompok ini.

 

Sehingga semakin meyakinkan kita bahwa Jokowi adalah orang yang harus segera disingkirkan. Apapun caranya, dan berapapun biayanya. Sebab Jokowi bukan penikmat kekuasaan dan sama sekali tidak bisa dibeli. Orang-orang besar yang memiliki kekuatan finaciallah kemungkinan ada dibalik Gerakan ini terus memanfaatkan moment covid-19 disertai isue ekonomi untuk menciptakan kegaduhan dan kekisruhan dinegeri ini. Dan kemungkinan jurus inilah yang akan digunakan mereka untuk merebut kekuasaan dari tangan Jokowi. 

Begitulah kondisi negara kita. Negara ini akan tetap gaduh selama Jokowi masih menjadi Presiden. Untuk itu demi kesejahteraan anak cucu kita kedepannya, dan demi kemakmuran negeri ini, sebagai rakyat yang memiliki mandat tertinggi, saatnya jangan diam tapi  mari rapatkan barisan untuk tetap mengawal dan membela Jokowi hingga akhir masa periodenya pada tahun 2024. Sebab mereka bukan tujuannya menyelamatkan negara, melainkan semata-mata ingin menyelamatka kekuatan Orde Baru. Dan itu sangat naif. **** 

Wassalam.

Aditya Mahya




Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,