WE ARE THE CHAMPION



Bencana disatu sisi selalu membuat kita terkapar dan jatuh, namun bagi bangsa petarung, itu hanya sebagian dari banyak ujian yang akan harus kita lewati. Naik kelas, ya ujian akan menentukan posisi kita. Kita akan naik kelas menjadi bangsa yang tak pernah kita bayangkan setelah badai dan bencana ini berlalu.

Tanda-tandanya sudah makin jelas. Kabut tebal dan mengkhawatirkan yang kemarin menghambat laju langkah kita sebagai bangsa sedikit memudar.  Samar-samar, jalan lebar terbentang didepan kita terlihat. Belum terlihat clear, namun jalan itu telah tampak, dan alam sepertinya berpihak kepada kita. Kabut iti makin menipis.

Kita tidak sendirian..

Awalnya, ketika virus ini masuk ke Indonesia untuk yang pertama kalinya, kejadian aneh langsung menyeruak. Presiden langsung dikeroyok. Aneh bahkan luar biasa aneh. Bukan seperti itu bangsa kita dulu. Dulu, kita dikenal dengan bangsa gotong royong. Tiba-tiba kita terhenyak dan sadar bahwa bangsa kita sudah berubah.

Saling mencaci, saling menghina bahkan ingin saling menjatuhkan. Bencana bukan dimaknai dengan saling menguatkan, namun sebagai kesempatan menjatuhkan presiden. Benar kita benar-benar telah kehilangan diri kita sendiri. Kita seperti asing terhadap diri kita sendiri. Seperti anak itik kehilangan induknya, kita bingung dan menangis tak tahu harus mencari kemana.

Kekuatan sempurna dari mereka yang membenci presiden keluar. Tak cukup dengan mereka yang sudah kita hapal siapa-siapa yang biasa berbuat sepetri itu, kini bahkan para mantan, para sepuh yang seharusnya menjadi penasehat kebaikan, justru keluar dan menampakkan diri secara telanjang.

Tanpa malu, mereka berteriak dengan bahasa yang seharusnya sudah bukan menjadi bahasa mereka lagi. Intinya, mereka ingin presiden salah langkah dan kemudian celah mendongkelnya terbuka dengan lebar. Ingin presiden tersungkur dan kemudian menggilasnya. Mereka hanya ingin kursi itu.

Tak peduli negara chaos, tak peduli rakyat pasti sengsara, bencana ini memang harus menjadi tak tertangani. Kekacauan akan muncul dari sana. Untung presiden bijak. Ditengah rasa frustasi terhadap para koleganya, bahkan Tuhan masih menguji ketabahannya, ibunya meninggal.

Tuhan menguji presiden kita dengan ujian sangat besar, dan beliau lolos.

Amerika tersungkur, tanpa sungkan dan malu mereka berteriak meminta pertolongan kepada China. Peristiwa aneh tapi sungguh nyata. Corona virus telah menghajar Amerika Serikat, China, Italy sebagai negara terparah. Lebih dari 90 negara didunia terpapar virus ini. Negara-negara maju seperti Jerman, Perancis, Spanyolpun terkapar tak berdaya.

Tak berbeda dengan Italy, akhirnya Amerika Serikatpun lempar handuk. Amerika minta tolong China. 

Berita besar yang menolong presiden. Amerika negeri top markotop, negeri pujaan yang selalu dibelakang para perusuh negeri ini kini tak berdaya. Amerika justru telah jatuh dengan cara yang lebih memalukan dari negara yang dipimpin oleh Jokowi, presiden yang ingin mereka permalukan.

Alasan menjadikan presiden Jokowi gagal mengelola dan mengendalikan serangan covid-19 langsung basi seketika. Bahkan, bukan tak mungkin, dana menggelontor untuk isu inipun segara akan hilang. Tak akan lagi ada isu negara ini kacaua balau karena semua negara di dunia juga kacau. Tak ada lagi isu yang dapat dibangun bahwa Jokowi gagal karena presiden sebuah negara adikuasapun justru menyerah.

Demikian pula isu rupiah, mata uang ini justru adalah mata uang yang akan menjadi salah satu mata uang paling sehat.

Kenapa anjlok bahkan sudah mendekati atau sama dengan saat 1998?

Berapa persen uang beredar saat ini? Bukankah negara sedang diliburkan dari segala aktifitas bisnis? Bukankah swasta juga libur dan rupiah otomatis juga tidak mengalir deras seperti hari-hari normal? Neagara lainpun mengalami hal yang sama, tak  berbeda dengan kita, mata uang mereka semua terdesak.

Pingin rupiah kita berjaya? Jangan hanya Buddha Tzu Chi yang gelontorin 500 miliar sendirian dong..!! Coba semua yang pegang duit banyak, disimpen atau bahkan dipakai nimbun barang, keluarin deh. 

Ramai-ramai, bersama  kita keluarin seluruh rupiah kita, suruh negara kelola untuk bikin kerjaan yang dibutuhkan demi menghancurkan corona termasuk membuat anti virus, atau membuat obat dan apapun yang berguna, pasti negara akan maju. Pasti rupiah akan menguat bahkan meroket. 

Mau? Sumbang dong..!! Masa minoritas yang jumlahnya hanya 0.5% dari 170 juta saja yang berani ngeluarin duit buat sesama? Dimana yang lain? Dimana yang hobi cari sumbangan ketika India, Uyghur, Palestina dan Rohingya bermasalah kalian sibuk?

Ah.., sudahlah.., ga usah ngusilin kaum konyol itu. Mereka cuma segelintir dan hidupnya memang selalu jadi benalu. Dah tinggalin aja, bentar lagi juga pada terkapar justru saat kita semua bangkit. 

Saat tepat bagi kita semua rakyat yang cinta Indonesia tanpa terkecuali melihat, mendengar alam memberi pelajaran kepada kita untuk selalu berdamai. Virus itu hanya teguran kecil agar kita sadar bahwa kemanusiaan adalah utama. Kebersamaan adalah apa yang menjadi pesan penting.

Indonesia adalah negara dengan rakyat yang berbudaya. Budaya yang dengan mudah dapat kita lacak keberadaannya. Disana akan kita temukan kenyataan bahwa kita adalah bangsa besar bahkan sangat besar sejajar dengan bangsa manapaun dengan kebesaran sejarahnya yang masih mereka banggakan.

Benar kita sedang dan masih menuju jalan turun karena kita lupa sejarah, kita lupa siapa kita, namun kita belum jatuh. Kita belum pecah sebagai sebuah bangsa.

Bencana ini adalah teguran agar kita sadar bahwa kita sedang berjalan pada arah yang kurang tepat. Pulanglah..!! Kembalilah pada jati dirimu..!! itulah teriakan alam untuk kita.

Jadilah kalian Indonesia, karena disana kebesaran sebuah bangsa menanti untuk diwujudkan. Hanya dengan menjadi Indonesia yang keindonesiaaannya terjaga dengan baik maka, harapan tinggi itu akan terwujud.

Kita sudah ditakdirkan akan menjadi bangsa juara, maka wujudkanlah. Tak ada takdir tanpa perjuangan. Tak mungkin hanya diam, berdoa, trus semua terwujud.

Takdir kita menjadi bangsa besar terlihat dari alam yang kaya, tanah yang luas, laut yang berlimpah, dan rakyat yang memiliki budaya tinggi. Salah satu hilang, maka potensi takdir itupun lenyap.

Alam, tanah, laut tak akan berubah, namun manusia akan berubah. Haruskah kita tinggalkan warisan leluhur yang membuat takdir kita menjadi besar?

Tidak...!! Kita sedang menuju kesana, ketempat kelimpahan itu dilahirkan. Bencana covid-19 bukan akhir kebesaran kita, justru awal kebangkitan dan kesadaran bahwa kita harus selalu bersama. SELALU BERSAMA..!!

Tidak ada lagi kotak pemisah, tak ada sekat penghalang, kita adalah satu Indonesia. Samar-samar, pemandangan indah muncul dari reruntuhan jiwa yang berserakan, "sebentar lagi bencana akan berlalu", demikian bisikan bumi pertiwi lirih terdengar. Seperti siluet, dikejauhan terlihat presiden tersenyum, dan dengan dukungan rakyatnya sebuah kertas berwarna perak ditandatangani dengan tinta emas.

Sepertinya, presiden akan mendapatkan jalan mulus bagi semua program kerjanya. Sepertinya kertas itu adalah undang-undang yang lama beliau inginkan.

Apakah itu?

Hanya yang berhati bersih yang akan mengerti apa arti undang-undang itu. Disanalah jalan tol bagi pembangunan menuju Indonesia hebat sedang dan akan dimulai. Dan benar, diujung jalan itu, gemah ripah loh jinawe terhampar. Rakyat tersenyum bahagia, kebahagiaan terpancar di mata mereka.

Ya..., covid-19 bukan bencana yang membuat kita hancur, dia justru adalah cara alam mengarahkan bangsa kita menjadi bangsa besar.
KITA ADALAH PEMENANG..!! 
Rahayu.

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,