TURBULENSI PESAWAT INDONESIA DAN KAMI

 

Mereka yang pernah naik pesawat tentulah mengalami guncangan di udara atau turbulensi. Bisa ringan bisa berat. Mereka yang naik kapal laut juga mengalami gelombang dan badai di tengah samudra. Bisa besar atau kecil.
Dalam kondisi seperti itu, baik pilot maupun nahkoda kapal, segera memberi tahu awak dan penumpang kembali duduk di tempatnya dan memakai sabuk pengaman (seat belt) dan penumpng kembali ke kamarnya atau berkumpul di area aman.
Kondisi yang sama dengan negara Indonesia yang sedang diguncang oleh Corona virus Covid 19. Negara sedang mengalami turbulensi. Guncangan dan gelombang. Maka para penumpang diminta mengikuti perintah dan aturan penerbangan atau pelayaran, duduk di tempatnya dan menyerahkan kendali pesawat pada pilot atau nahkoda kapal - untuk mengatasi keadaan dengan keahliannya.


Jika pun ada pihak yang ingin mengganti pilot atau nahkoda maka diminta menunggu turbulensi dan gelombang reda. Dan sosok pilot / nakhoda yang menggantikan dipastikan memamg ada keahliannya.
Apa yang dilakukan oleh gerombolan KAMI di tengah turbulensi Coronaviris Covid 19 ini - justru tak mematuhi aturan penerbangan / pelayaran dan kini bahkan mau merebut kendali pilot di cockpit. Atau nahkoda di kapal.
KITA sama sama tahu bahwa KAMI kumpulan para mantan yang kecewa, yang rekam jejak masing masingnya tak istimewa tak melakukan perubahan signifikan pada jabatannya saat masih dipercaya oleh negara.
Tapi di tengah pandemi virus dan negara sedang ringkih, duit negara terkuras untuk menambal ekonomi yang macet, membeli sembako bagi rkyat miskin, saat ini, gebrakan KAMI cukup mengguncang dan menarik perhatian karena penawarannya "menyelamatkan Indonesia" .
Mereka yang mau kritis segera bisa menanggapi, memangnya mereka sudah bikin apa buat bangsa ini - selama ini - sehingga menggagas ide besar dan gagah, "menyelamatkan Indonesia" ?!
Pada jabatan masing masingnya saja, tempo hari - mereka tak mampu melanjutkan tugasnya. Bagaimana bisa sok sokan mau "menyelamatkan Indonesia" ?!
Bahwa kehadiran KAMI kini jadi mengganggu ya. Kini politik terganggu. Tapi membantu mengatasi masalah bangsa, jelas tidak. Jauh panggang dari api.


Didukung oleh media yang gemar kontroversi, KAMI menjelma jadi tameng para oposan kini. Di kubu KAMI mereka punya daya tawar lumayan tinggi.
KAMI jadi benteng para tokoh itu melempar berbagai kritik ke pemerintah dan presiden berdalih beda pendapat dan demokrasi. Tapi bisakah meraih kepercayan masyarakat luas? Nanti dulu
KAMI jelas punya potensi untuk memobilisasi massa. Meski terkesan elitis. Tapi cukong yang siap mendanai banyak. Karena banyak mafia digusur semasa Jokowi berkuasa dan kini sakit hati.
Ingat satu dua bomber saja di tengah kota - dengan modal minimal - bisa merugikan negara triliunan rupiah.
KAMI diperhitungkan kini karena figur-figurnya, yang mayoritas adalah tokoh yang pernah berada dalam lingkar kekuasaan. Meski saat berkuasa mereka tak pernah membuat terobosan. Para mantan yang kecewa.
Celakanya warga awam politik praktis yang mudah dibodohi itu punya hak suara dalam pemilu. Punya satu suara yang setara dengan dosen dan intelektual yang baca ribuan buku. ***

Dikutip Dari Akun Facebook;

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA