SUMBANGSIH ORANG ORANG KIRI

 

Menjelang hari jadi Republik indonesia yang ke 75 ini saya ingin mengingatkan pada segenap anggota majelis fesbukiyah semua di sini bahwa kita bangsa Indonesia berhutang jasa dan hutang budi pada orang orang kiri.
Sejak Orde Baru berkuasa dan bertahan selama 32 tahun - sejarah orang orang kiri menjadi antagonis. Jahat dan hitam. Jasa jasa mereka kepada republik ditengelamkan. Bahkan dihapus. Padahal, kemerdekaan republik kita diilhami dan digagas oleh paham Kiri.
Paham Kiri identik dengan perjuangan keadilan dan kesetaraan. Perlawanan pada penindasan oleh bangsa asing maupun bangsa sendiri. Juga revolusi.
Isu-isu yang diperjuangkan kaum Kiri identik dengan anti kolonialisme - anti kapitalisme dan egalitarianisme.
Ideologi sayap Kiri sering diasosiasikan dengan gerakan buruh, komunisme, Sosialisme, Anarkisme, Marxisme.
Di era globalisasi saat ini, kiri identik dengan sosialisme demokratis, feminisme, lingkungan hidup, sekularisme, dan kiri baru (new left) anarki pasca-kiri dan sindikalisme.
Sebelum Indonesia terbentuk dan masih dalam jajahan Belanda hampir semua bapak pendiri bangsa kita terilhami oleh ide-ide Kiri.
Kartini, orang pertama yang memercikkan api gagasan nasionalisme dan emansipasi, terilhami oleh ide kiri terkait dengan kesetaraan manusia. Egaliteriansme. Dia gigih memperjuangkan persamaan hak dan mengritik sikap feodal.
Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto, yang juga Bapak Syarikat Islam, pun terilhami oleh ide-ide kiri, terutama Sosialisme. Sampai-sampai, dia menulis beberapa artikel dan risalah yang mempertautkan antara Islam dan gagasan sosialisme.
Syarikat Islam kemudian pecah dengan Syarikat Islam Merah dan Syarikat Islam Putih - S.I. Merah identik Komunis dan S.I.Putih Nasionalis.
Bapak bangsa yang lain, dr. Tjipto Mangunkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantoro, juga kekiri kirian. Walaupun keduanya turunan Ningrat, tetapi mereka membuang keningratannya. Keduanya menjadi penganjur Nasionalisme, yang mempertautkan semangat kebangsaan dan kemanusiaan, tidak membeda-bedakan manusia karena suku, agama, maupun ras.
AGAR lebih jelas, warga bumi putra pertama yang mencetuskan konsep tentang 'Negara Indonesia' adalah Tan Malaka. Dia menulis buku "Naar de Republiek Indonesia" (1925). Dan dia dikenal sebagai tokoh Kiri. Ketua Komunis Asia Tenggara.
Buku "Negara Indonesia" itulah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dkk untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari barisan yang lain. Tapi jasa besarnya bagi Tanah Air terlupakan.

Datuk Ibrahim Tan Malaka berjuang “sendirian” untuk memerdekakan Indonesia dari mulai menulis buku, membentuk kesatuan massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut bertempur di lapangan melawan Belanda secara langsung, sampai akhirnya harus keluar-masuk penjara berkali-kali, diburu oleh interpol, dan kejar-kejaran sama polisi Internasional.
Tan Malaka adalah tokoh pejuang, pendiri republik yang dikenal dengan "Merdeka 100 Persen". Dia tak suka perundingan-perundingan yang merugikan Indonesia.
Meski di masa revolusi Tan Malaka sering berseberangan dalam cara menghadapi Belanda di perundingan, Sukarno memuliakan Tan Malaka.
“Tan Malaka adalah pencinta tanah air dan Bangsa Indonesia, ia adalah sosialis yang sepenuh-penuhnya," kata Sukarno dalam Bung Karno Tentang Partai Murba (1961).
PKI-lah - Partai Komunis Indonesia - yang ikut didirikannya merupakan partai politik pertama dalam sejarah yang menyandang nama 'Indonesia', di sebuah masa ketika nama 'Indonesia' masih dianggap barang ilegal oleh pemerintah kolonial Belanda.
Memang, ada nama Perhimpunan Indonesia yang pertama menyandang nama Indonesia, tahun 1922, tetapi mereka bergerak di negeri Belanda. Sedangkan di tanah air, yang kala itu masih bernama "Hindia-Belanda" ada PKI.
PKI lah yang pertama menyandang nama 'Indonesia' yaitu pada tahun 1924. Artinya 24 tahun sebelum Indonesia diproklamasikan.
Empat tahun setelah itu baru terlaksana Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928.
Baru sesudah itu berdiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI) di Surabaya (1932) dan Partai Arab Indonesia (PAI, 1934) yang diinisiasi AR Baswedan, kakek dari Anies Baswedan.
Pada awal perjuangannya, Soekarno dan Hatta, cenderung kiri. Soekarno terilhami Marxisme, Hatta juga. Keduanya mencita-citakan masyarakat yang bercorak Sosialis, yang di dalamnya setiap orang bisa hidup merdeka dan setara. Meskipun tentang bagaimana sosialisme diwujudkan dan seperti apa bentuknya, keduanya agak berbeda.
Orang-orang kiri yang lain yang berjasa bagi republik adalah Sutan Syahrir. Dia seorang intelektual, sosialis, tokoh pergerakan ‘bawah tanah’ membangun jaringan untuk mempersiapkan diri merebut kemerdekaan tanpa kerja sama dengan Jepang seperti yang dilakukan oleh Ir. Soekarno.
Syahrir percaya bahwa kependudukan Jepang sudah tidak lama lagi dan Jepang tak mungkin menang dalam perang melawan sekutu sehingga Indonesia harus cepat merebut kemerdekaan dari tangan Jepang.
Bersama tokoh tokoh kiri yang lain, Sutan Syahrir punya andil besar bagi kemerdekaan dan kelahiran Indonesia. Mereka menyumbang gagasan sekaligus berkorban nyawa bagi kemerdekaan Indonesia.
Slogan “sama-rata, sama rasa” yang populer sebagai semboyan PKI berasal dari syair seorang Komunis, Mas Marco Kartodikromo - dia menulis syair yang penuh daya gugah dan gairah menggerakkan itu dari dalam penjara kolonial.
JANGAN LUPAKAN pula andil pemuda-pemuda Kiri, baik Sosialis maupun Komunis, pada Proklamasi Kemerdekaan RI.

Anak-anak muda yang kelak berideologi Kiri maupun Komunis, seperti Sukarni, Wikana, Aidit, Chaerul Saleh, turut bergerak bersama pemuda-pemuda dari Asrama Menteng 31 untuk mendesakkan Proklamasi Kemerdekaan RI. Chaerul Saleh memimpin kesatuan Laskar Rakyat dan kesatuan Bambu Runcing yang berhaluan kiri dari daerah-daerah Jakarta Timur, Bogor, Sukabumi, Tangerang, dan Banten.
Di tempat itu Sukarni makin giat menggembleng para pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia dan kelak menjadikannya pusat kelahirkan tokoh tokoh Angkatan 45.
Bersama Wikana, pemuda kiri yang lain, Soekarni mengasingkan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok agar terbebas dari pengaruh Jepang yang menjanjikan kemerdekaan Indonesia "tak lama lagi".
KARENANYA persekusi dan penghitaman sejarah terhadap pemikiran kiri bukan saja kejahatan, tetapi juga menempatkan kita sebagai “bangsa durhaka” di hadapan sejarah dan pendiri bangsa kita.
Sebab, asal Anda tahu, orang orang kiri punya jasa besar tidak saja bagi kemerdekaan Indonesia, tetapi bahkan bagi kelahiran Republik Indonesia itu sendiri.
Tanpa sumbangsih orang orang Kiri, belum tentu kita menjadi Indonesia yang dimerdekakan tanggal 17 Agustus 1945.
Pemuda pemuda Kiri progresif lah seperti Sukarni dan Chaerul Saleh yang mendesak Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Soekarno sendiri mengakui kontribusi besar orang-orang komunis bagi kemerdekaan Indonesia.
Sehari menjelang G 30S Chaerul Saleh menghadap Bung Karno membawa draft nasionalisasi perusahan perusahaan asing. Dia telat. Amerika dan CIA bertindak lebih dulu, Sukarno jatuh dan Suharto menggantikannya dengan memberi imbalan gunung emas Papua lewat PT Freeport.
Sejak Jendral Suharto naik ke tampuk kekuasaan peran orang orang kiri yang ikut mendirikan republik Indonesia ditenggelamkan dan dihitamkan oleh sejarah.
Suharto mengikuti agenda AS yang anti Komunis dan terus menghidupkan hantu komunis selama 32 tahun masa kekuasaannya - sementara dia dan kroninya menjarah Indonesia untuk kemakmurn diri dan keluarganya. ***

Dikutip Dari Akun Facebook;

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA