Mengenang Kembali, Bung Hatta Dengan Kesederhanaannya.

 

Menjelang peringatan 75 tahun Indonesia merdeka, tentu saja menarik menrefleksi kembali apa yang ada dalam lirik lagu Iwan Fals yang sangat menyentuh hati kita semua didalam memotret kesederhanaan seorang Proklamator Bung Hatta.


“ Tuhan, terlalu cepat semua kau panggilsatu-satunya yang tersisa Proklamator tercinta Jujur, lugu, dan bijaksana, mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia. Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi. Berjuta kepala tertunduk haru. Terbayang baktimu, terbayang jasamu. Terbayang jelas jiwa sederhanamu. Bernisan bangga, berkafan doa, dari kami yang merindukan orang sepertimu”. Sungguh meluluhkan hati kita.

Begitulah sang Proklamator Republik Indonesia Mohammad Hatta. Beliau sangat dikenal dengan hidupnya yang sangat sederhana. Sifat itu terus bertahan, baik sebelum, saat, maupun setelah dia menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia. Dan sepenggal kisah dari cermin kesederhanaan Bung Hatta yang tidak pernah terwujud yaitu cerita tentang sepatu Bally yang begitu disukainya.

Di Era tahun 1950-an, sepatu Bally sudah menjadi sebuah merek sepatu berkualitas tinggi yang sangat terkenal di Indonesia. Harganya pun sangat mahal, namun Bung Hatta ingin sekali memilikinya. Lalu tak sengaja, beliau membaca iklan sepatu itu di sebuah koran dimana dalamnya ada informasi tentang tempat penjualan sepatu tersebut.

Dan saat itu Bung Hatta belum memiliki uang yang cukup, lalu menggunting dan menyimpan potongan iklan tersebut didalam dompetnya. Mungkin, maksud Bung Hatta, agar dikemudian hari punya rejeki dan tak perlu repot-repot mencari tempat di mana sepatu itu dijual.

Sayangnya, uang tabungan Bung Hatta tidak pernah mencukupi. Selalu saja terambil untuk keperluan rumah tangga, atau untuk membantu kerabat yang datang meminta pertolongan Dalam buku ”Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” karya Faisal Basri dan Haris Munandar, salah satunya ditampilkan kisah kesederhanaan Bung Hatta. Dalam buku itu diceritakan, bahwa hingga akhir hayatnya, Hatta tidak pernah memiliki sepatu merek Bally yang diimpikannya sampai beliau wafat pada tanggal 14 Maret 1980.

Keluarga Bung Hatta tidak menyangka menemukan lipatan guntingan iklan yang ada didalam dompetnya. Iklan itu adalah iklan sepatu merek Bally, yang dulu disimpannya. Ternyata Bung Hatta memilih untuk tidak memilikinya. Padahal, dengan jabatannya sebagai wakil presiden, apalagi dia juga berasal dari keluarga yang tak kekurangan, bukan perkara sulit untuk mendapatkan sepatu itu.

Hatta bersikukuh memilih untuk tidak memilikinya karena dia memilih untuk hidup sederhana. Selain sifat sederhana,Hatta juga dikenal sebagai sosok yang bersih dan jujur. Ini ditunjukkan Bung Hatta ketika memarahi sekretarisnya saat di pemerintahan, I Wangsa Wijaya, yang menggunakan tiga lembar kertas Sekretariat Negara (Setneg).

Wangsa menggunakan kertas itu untuk membuat surat kantor wapres. Hatta kemudian mengganti tiga lembar kertas Setneg tersebut dengan uang kas wapres. Meski terkesan remeh, Hatta selalu berusaha untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kertas usang di dompet Hatta menjadi saksi kesederhanaan seorang Hatta, Sang Proklamator Republik Indonesia.***

____________________
Semoga menjadi Inspirasi untuk anak-anak  bangsa didalam memaknai kesederhanaan dari seorang pemimpin.

Dirgahayu Indonesiaku .Aditya Mahya

 


Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA