Memaknai Pesan ; “ Merdeka Atau Mati,” Dalam 75 Tahun Indonesia Merdeka,




Kalimat yang tak pernah terputus dikobarkan, diteriakkan lantang para pejuang leluhur bangsa, bahwa kemerdekaan adalah " harga mati " menjadi pilihan yang harus diambil dalam melawan  imperialisme. Dan akhirnya pekik kemerdekaan tahun 1945, menjadi legecy dan jejak sejarah pada bangsa ini. Pidato  Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang diseantero negeri ini pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 yang langsung dibacakan oleh Bapak Proklamator Soekarno dan Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56 , Jakarta Pusat.


75 tahun sudah perjalanan waktu, ternyata slogan itu berubah seakan tak bermakna lagi bahkan hanya menjadi simbol dan penghias pada spanduk-spanduk dalam memperingati perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. Bahkan sungguh ironisnya disaat saya mencoba bertanya kepada seorang kawan terkait pilihan jika memilih diantara dua kata “Merdeka atau mati?”, Dengan spontan teman saya menjawab, “Saya memilih atau!”


Saya tidak menyangka seorang teman menjawab spontan seperti itu. Ini menunjukkan bahwa bangsa kita kemungkinan besar sedang mengalami degradasi nilai-nilai kebangsaan dalam memaknai pesan moral dari “Merdeka atau mati? itu. Sudut pandang dalam kebebasan berpikir dan berekspresi tidak semua memiliki kesamaan lagi sehingga menjadi pertanyaan besar ada apa negeriku ini? 

  



Pilih Merdeka, 

Seharusnya pilihan merdeka dijadikan patron pilihan yang paling rasional dalam hidup berbangsa dan bernegara. Bukankah nilai-nilai kemerdekaan itu justru terpatri pada kata merdeka, jangan sampai hanya dijadikan sebagai pekik yang bersifat normatif atau nostalgik khususnya diera milenial! Dan kondisi ini diperparah lagi dengan munculnya sikap intoleransi dan radikalisme yang terus menghantui dan mengancam kebhinnekaan kita. Tidak lagi memandang keberagaman adalah kekayaan hayati yang dimiliki negeri ini. Bahkan kelompok-kelompok intoleran begitu terbuka menggerus negeri ini didalam menyebarkan fitnah, kebencian dan hoaks untuk mengadu domba sesama anak-anak bangsa. Inilah salah satu kekhawatiran akan menimbulkan potensi perpecahan bangsa.



Pilih Mati,

Seharusnya pilihan mati tidak dimaknai sebagai sesuatu yang konkret, tetapi lebih kepada“kematian abstrak”. Yang dapat diartikan sebagai cermin ketidakberdayaan terhadap sesuatu atau kondisi yang harus dihadapi. 


Pilih Atau, 

Pilihan ini sama saja, pilihan yang tidak memiliki makna, dimana hanya memberi kontribusi atau keuntungan pada dirinya sendiri. Dan orang-orang yang memiliki pilihan ini dapat digolongkan sebagai orang  yang tidak mau menerima resiko karena lebih tertarik dengan pilihan yang aman dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Pilihan “atau” juga bisa dimaknai sebagai kelompok “massa mengambang” dalam konteks sosiologi politik. Dimana pada saat situasi kondisi politik seperti yang terjadi sekarang inilah menjadi target garapan oleh kelompok-kelompok radikal untuk menyeretnya masuk dalam zona nonrasional untuk dimanfaatkan melawan negara. 


Pememaknaan “ Merdeka atau Mati” diartikan sesuai keinginan masing-masing sehingga terjadi pergeseran sosial didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Evolusi sosial menghadang kita sehingga tidak heran jika kita di perhadapkan dengan sebuah kondisi dilematis baik yang terjadi ditengah masyarakat maupun di media sosial sehingga menjadi bukti dan fakta bahwa bangsa ini mengalami krisis nalar dan akal sehat didalam menakar nilai-nilai kebangsaan secara objektif, sehingga potensi perpecahan satu dengan lainnya tak terelakkan dengan konflik-konflik yang sengaja dimunculkan. 

75 tahun usia kemerdekaan kita, sadar atau tidak, nampaknya kita berada pada situasi yang sudah berbeda dibandingkan dengan ulang tahun kemerdekaan dimasa 6 tahun sebelumnya. Suhu politik terus membara mengakibatkan begitu mudahnya gejolak amarah sosial terjadi dimana-mana.

Perlakuan buruk atau penganiyaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik yang berbeda, hal inilah menjadi ancaman berat bangsa ini dalam menjaga keutuhan NKRI. Sudah saatnya diusianya yang menua ini (75 tahun Indonesia merdeka) mari kita sama-sama berlaku arif dan bijaksana. Sebab, apa pun perbedaan itu! kita tetap satu yaitu "Indonesia". Negara ini kita bangun tidak dalam sekejap, tetapi bisa rusak hanya dalam sekejap. Karena itu, siapa pun kita, apa pun perbedaan politik kita, apa pun perbedaan pemahaman kita, tetapi kita tetap berada dalam satu rumah besar yaitu Indonesia. Merdeka! 


Sudah sepantasnya orang-orang yang selama ini mengaku dirinya elit politik atau tokoh nasional tapi sikap dan tingkah lakunya tidak mencerdaskan bangsa ini, bahkan terus berupaya mengadu domba rakyat untuk kepentingan politik pragmatisme, saatnya kalian sadar dan tahu diri. 

Sebab kalian tak ubahnya seorang provokator dan pecundang politik, bukan bertujuan menyelamatkan bangsa seperti yang kalian suarakan! Tapi kalian adalah orang-orang yang sakit hati yang ingin menghancurkan bangsa ini. Jika kalian mengaku tokoh bangsa yang punya keinginan tulus memajukan bangsa dan negara, mengapa kalian tidak melakukannya dengan cara yang bermartabat dengan memberikan sumbangsih pemikiran kepada pemerintah agar perekonomian kita tidak terpuruk dan terjerembab ke dalam kondisi yang lebih krisis. ***


Dirgahayu Republik Indonesia
75 Tahun Merdeka,

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,