Londo Ireng & Radikalisme Sama Saja, Pengkhianat Bangsa!

 


Pada zaman kononialisme, Bangsa kita meninggalkan sejarah kelam di masa lalu, dimana selama ratusan tahun lamanya hidup terbelenggu ditangan penjajah Belanda. Dan cerita perih ini tidak akan terlupakan, dan terus akan dikenang hingga akhir zaman. Pengkhianatan anak-anak bangsa yang rela menggadaikan kemerdekaan dan kehormatannya, demi menikmati hidup makmur bersama kolonial di bumi Nusantara.

Namun dimasa itu, bangsa kita sama sekali tidak menaruh dendam. Mengapa?Karena bangsa kita dikenal sebagai  bangsa yang ramah dan bukan bangsa  pendendam. Jika kita mencoba menrefleksikannya  kembali kisah atau sejarah pengkhianatan yang pernah terjadi, maka sejatinya musuh kita sejak dulu hingga sekarang, sebenarnya bukan siapa-siapa melainkan saudara sebangsa sendiri yang dikenal dengan sebutan Belanda Hitam atau “ Londo Ireng “, atau pengkhianat bangsa.

“ Londo Ireng”, dimasa itu lebih memilih  membela Belanda dari pada kepentingan bangsanya sendiri di dalam melakukan perjuangan merebut kemerdekaan. Karena? Mereka menginginkan mendapatkan kemudahan dalam kehidupan sehari-harinya dimasa itu yang disertai  dengan alasan politis sehingga mata dan hati mereka tertutup sudah untuk saudara-saudaranya sendiri. Harta, tahta, jabatan  dan keselamatan menjadi pilihan dari pada ikut berjuang bersama-sama untuk merebut kemerdekaan.


Nah….tidak heran jika para “ Londo Ireng”, banyak dari kalangan intelektual,  terpelajar, para aristokrat dan bangsawan (raja-raja), juga ikut termakan rayuan duniwai yang ditawarkan oleh kaum penjajah. Motivasi mereka pun beragam. Ada yang dekat karena ingin diangkat menjadi raja atau pemangku wilayah karesidenan, menjadi pegawai sipilnya saja. Dan bagi rakyat biasa, ia rela menjadi centeng hingga mata-mata Belanda karena tergiur oleh upah. Lalu apa bedanya dengan sekarang?

“ Londo Ireng”, dijaman kolonial dengan diera milenial sama saja! karena mereka melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya dengan menanggalkan nilai-nilai kebangsaan yang sejatinya dijunjung tinggi. 75 tahun Indonesia merdeka tidak lagi menjadi spirit kebersamaan dalam satu bingkai keIndonesiaan. Justru sebaliknya bangsa kita terpecah dengan munculnya kelompok-kelompok atau gerombolan-gerombolan yang tak ubahnya dengan Londo Ireng, yang secara terang-terangan melakukan perlawan terhadap negara dengan cara merusak tatanan berbangsa dan bernegara .

Kelompok ini muncul dengan menggunakan topeng agama untuk melakukan tindak kekerasan dan intimidasi. Prilaku intoleran menjadi aktivitas mereka dimana-mana seakan tak ada ujungnya. Perlakuan terhadap minoritas sudah menjadi hal yang biasa, bahkan sesama muslim pun tak terelakkan saling benturan karena mereka menganggap berbeda pemahaman, lalu mengkafirkan semua orang. Mereka-mereka seolah lebih suci, lebih bersih, lebih pintar, lebih hebat dari saudara-saudara lainnya.

Sikap saling membenci, memfitnah terus dipelihara untuk tujuan menciptakan perpecahan bangsa. Dari sikap intoleran berubah menjadi radikalisme. Dengan mudahnya bangsa ini dirasuki oleh pemahaman mereka. Peristiwa di Kota Solo 8 Agustus 2020 yang lalu sungguh memilukan dan memalukan bangsa ini. Sikap saling melukai terjadi lagi entah sampai kapan?

Mereka begitu eksis melakukan pengkhianatan sesama bangsanya. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI tidak lagi mereka jadikan dasar bernegara. Bahkan mereka terus bermunculan melakuan pembencian terhadap pemerintah dan negara dengan dakwah-dakwah yang memancing amarah untuk memusuhi pemerintah. Jejak mereka begitu bebas melakukan penutupan gereja, menghalangi orang untuk melakukan ibadah. Bahkan sesama muslim pun mereka lukai, apalagi dengan umat lainnya yang jelas-jelas berbeda keyakinan mereka.

Sudah saatnya Pemerintah bersikap tegas menghentikan jejak mereka dengan melibatkan segala kekuatan hukum  yang dimiliki oleh negara. Aparat keamanan kita baik TNI dan POLRI sudah saatnya bersierjik  menciptakan stabilitas keamanan nasional agar bangsa ini terhidar dari potensi terjadinya perpecahan sesama anak-anak bangsa. Begitu pula para kaum ulama yang ada di MUI, para politisi dan gelandangan politik termasuk orang-orang yang selama ini menyuburkan radikalisme di negeri ini agar membuka pintu hatinya untuk menyejukkan hati bangsa ini.


Jangan ada lagi pembiaran, aparat keamanan khususnya POLRI tindaklah mereka secara tegas sesuai sanksi hukum yang setimpal. Sebab pemerintah tidak lagi memiliki pilihan lain, kecuali menghentikan jejak-jejak mereka sekarang juga demi menyelamatkan bangsa dari para pelaku intoleran. Sebab memernangi mereka, rakyat tidak memiliki kewenangan apa-apa! Rakyat sudah memberikan kewenangan termasuk kekuasaan kepada pemerintah atas nama negara untuk menuntaskan persoalan intoleransi dan radikalisme demi terwujudnya kedamaian berbangsa dan bernegara.

Rakyat Indonesia menaruh harapan besar kepada Bapak Presidenku Bapak Ir. Joko Widodo beserta jajarannya untuk mewujudkan kedamaian di negeri ini dengan menggunakan instrumen konstitusi secara tegas demi menyelamatkan bangsa dan negara dari kelompok-kelompok “ Londo Ireng ” yang terus menebarkan teror  perpecahan sesama anak-anak bangsa dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga pulau Rote. Indonesia sungguh merindukan kedamaian. Semoga terwujud!*** 


Tulisan ini telah tayang dihalaman Kompasiana.com 
tanggal 12 Agustus 2020 dengan Judul ;

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,