KESAKSIAN BUNG TOMO TENTANG BUNG KARNO

Saya yakin, generasi usia saya dan sesudahnya menganggap Bung Karno dan Bung Tomo sepantaran atau seusia. Ternyata tidak. Mereka beda generasi. Tentu saja kedunya sama sama terhormat dan orang penting dalam perjuangan kemerdekan negri ini.
Dari sebuah buku kumpulan surat suratnya, terungkap bahwa
Bung Tomo masih kanak kanak ketika diajak ke alun alun oleh kakeknya untuk menyaksikan pidato Bung Karno dan ikut terpukau - terprovokasi dan terinspirasi, sehingga ikut berjuang di medan gerilya.
Bung Tomo kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920. Sedangkan Bung Karno kelahiran 6 Juni 1901.


Kita sama sama tahu bahwa Bung Tomo menggelorakan perang kota di Surabaya dan terkenal dengan moment 10 Novembernya.
Bung Tomo mengenangkan, Bung Karno telah dapat "mengambil" hati rakyat dalam jumlah yang lebih besar. "Kekuatan yang seolah olah mempunyai daya besi sembrani yang luar biasa terhadap massa di Indonesia, " demikian tulis Bung Tomo dalam salahsatu suratnya yang terangkum dalam dari buku "Bung Tomo Menggugat" (cetakan 2008)
Bung Tomo mencatat, ada putra putra bangsa yang mencintai tanah air dan rakyat bangsanya yang setaraf dengan Bung Karno khususnya
dr. Tjipto Mangunkusumo, Dr. Moh Hatta, Sutan Syahrir, namun Bung Karno memiliku kelebihan khusus yakni kemampuannya berpidato dan berubah menjadi "singa panggung"


Selengkapnya Bung Tomo menulis:
"Saya masih teringat pada masa 1930 an, waktu Bung Karno hendak berpidato di Surabaya. Kakek saya sejak pagi di rumah tampak diliputi oleh perasaan berdebar debar (exited) dan ingin segera berangkat ke temat rapat umum. Akhirnya saya, cucunya, yang tidak mengerti apa apa tentang politik diajak serta menghadirinya.
Melihat Bung Karno berpidato di tengah tengah massa itu benar benar telah membikin saya melupakan nasib saya, ialah nasib anak kecil yang diajak kakeknya setengah paksa melihat rapat politik.
Massa bertepuk tangan secara spontan setiap kali Bung Karno melontrkan kata kata dengan nada yang tinggi baik itu, kata kata anjuran maupun slogan slogan perjuangan.
Saya jadi tertarik setiap kali melihat Bung Karno dengan mukanya yang menjadi merah padam, mengepalkan tangannya atau mengarahkan jari telunjuknya ke arah massa atau ke atas sambil mengucapkan kalimat kalimat secara lantang.
Saya kemudian ikut bertepuk tangan walaupun sebagian ucapan Bung Karno itu tidak saya mengerti.
Nada pidatonya dan suasana di tengah tengah massa itu telah menghanyutkan saya.
Kakek tampak puas melihat saya ikut bertepuk tangan itu, sebab kiranya memang demikian itu yang diharapkan olehnya. Ialah agar saya ikut dalam gelombang gerakan kemerdekaan dan...supaya mengenal Bung Karno.


Di dalam perjalanan pulang, kakek berkata, "Kau tahu mengapa orang banyak itu bertepuk tangan serentak dan muka mereka berseri seri? Karena apa yang diucapkan oleh Bung Karno itu adalah apa yang terkandung di dalam hati kita semua. Bedanya kita tidak berani. Dia jago kita. Ia mewakili kita. Kau mengeri apa yang dimaksudkan bukan ? .... Kita harus merdeka, kita tetap merdeka".
DARI pengagum semasa kanak kanak memimpin perang gerilya kota, Bung Tomo kemudian dekat dengan Bung Karno.
Anak Bung Tomo, Bambang Sulistomo, mengatakan, dua tokoh bangsa itu sangat akrab sejak masa revolusi. Saking dekatnya dengan Sukarno, Bung Tomo kerap diundang sarapan bareng di Istana.
Namun hubungan mesra keduanya pecah ketika Bung Tomo datang ke istana dan menegur Bung Karno yang hendak menikah lagi.
Seusai santap pagi bersama Sukarno di Istana kala itu, Bung Tomo memberanikan bertanya. "Mas, enek sing cerito, jarene Mas iki ngene yo? (Mas, ada yang cerita, katanya Mas ini begitu ya ucapnya kepada Sukarno. Yang dimaksud "ngene" adalah rencana Bung Karno menikahi Hartini.
Presiden pertama Indonesia ini tak menjawab pertanyaan Bung Tomo.
"Apa betul, Mas?" kata Bung Tomo. Lagi-lagi Bung Karno membisu.
Orang normal akan berhenti sampai di situ - tapi Bung Tomo tidak.
Lebih gila lagi, Bung Tomo menyemprot Sukarno, sang Presiden RI itu di istananya. "Mas, ojo ngono. Wong Jowo iku ora entuk nabrak pager ayu (Mas, jangan begitu. Orang Jawa itu tidak boleh menikahi perempuan yang masih bersuami)," kata Bung Tomo.
Mendengar perkataan Bung Tomo, Sukarno langsung berdiri dan membanting piring. "Kowe iki ngerti opo, arek enom, kok! (Kamu itu mengerti apa, anak muda!)".
Tak mau kalah, Bung Tomo juga ikut membanting piring. "Yo, wis nek gak gelem dikandhani ambek adik'e dewe. Iku pantangan, Mas! (Ya sudah, kalau tidak dinasihati adik sendiri. Itu pantangan, Mas!)".
Seusai cekcok singkat tersebut, Bung Tomo langsung angkat kaki dari Istana. Kejadian itu merupakan sarapan terakhir Bung Tomo bersama Sukarno.
Bambang Sulistomo, anak Bung Tomo mengakui, kritik yang menyenggol kehidupan pribadi itu memicu keretakan hubungan antara ayahnya dan Ir. Sukarno.
Sulistina isteri Bung Tomo pun mafhum dengan reaksi suaminya. "Dia orang yang sangat setia," kata nya.
DENGAN jasanya yang begitu besar tapi pembawannya yang blak blakan Bung Tomo tak cukup beruntung berurusan dengan presiden.
Setelah dijauhi Bung Karno, Bung Tomo juga dikucilkan oleh Pak Harto, penggantinya di istana.
Bahkan Bung Tomo sempat dipenjara di Nirbaya, Pondok Gede - Jakarta, gara-gara menanyakan proyek Taman Mini dan kutipan komisi 10 persen oleh ibu Tien Suharto.
Sebelumnya, Bung Tomo juga mengritik keras peran asisten pribadi (Ali Moertopo dan Sudjono Humardani) dan keluarga Presiden Soeharto. Juga praktek "cukongisme" sebagai realisasi nepotisme dan "klik", melalui peran ekonomi yang berlebihan dari pengusaha nonpribumi.
Bung Tomo merasai penjara di zaman Orba pada tahun 1978-79. Tapi kebencian Suharto kepadnya berlanjut. Bahkan hingga kematiannya
Bung Tomo meninggal di Arab Saudi 7 Oktober 1981, saat menunaikan ibadah haji dan pejuang yang menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan itu baru mendapat gelar "Pahlawan Nasional" pada 10 November 2008. ***

Ditulis Oleh;

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,