Langsung ke konten utama

KAMI, OLD MACHINE

 

Bukan tentang mereka sakit hati kalah pada pilpres 2019 lalu, ini tentang bagaimana tahun 2024 nanti.

Siapa yang kemarin dikalahkan, telah berjabat tangan, sepakat bersama membangun bangsa dan negara ini.

Terlalu besar bangsa ini dipegang sendiri oleh Jokowi. Terlalu luas wilayah negeri ini harus di lalui telapak kakinya. Ada saat dimana kepentingan lebih besar mengalahkan semua hambatan.


Di sanalah kedewasaan seseorang menampakkan wajah sesungguhnya. Menunggu Jokowi selesai menjabat dan kemudian kontestasi kembali dimulai, seharusnya demikian demokrasi memiliki apa itu kata sepakat. Konsisten pada aturan permainan sehingga pertandingan memiliki nilai sebuah estetika. Ada keindahan.

Menjadi tantangan adalah ketika ternyata Jokowi adalah pemain luar biasa bagus. Bukan tentang rasa khawatir Presiden yang satu ini akan didesak oleh rakyat yang menginginkannya memimpin kembali, ini tentang efek yang diakibatkan oleh kehadiran Presiden luar biasa ini.


Meski diluar sana, gegara cara memimpinnya dianggap luar biasa bagus, sehingga rakyat bersatu dan hukum berubah dan Putin serta Xi Jinping didaulat menjadi pemimpin dengan fase lebih panjang, bukan itu kita bicara. Kita wajib konsisten dengan demokrasi yang sudah kita sepakati.

Jokowi yang sukses adalah Jokowi yang akan terus dipandang. Siapa pantas menjadi penerus dan benar sejalan dengan kebijakan yang membuat rakyatnya nyaman adalah tentang siapa yang akan Jokowi jagokan.

Disisi lain, justru yang akan paling dominan adalah partai pendukung dimana Jokowi berasal, PDIP. Dijamin PDIP akan menjadi partai sangat kuat untuk 2024 nanti.

Dua alasan inilah yang tak ingin mereka (KAMI) tunggu. Menunggu sampai tahun 2024 sama dengan menyerah kalah.

Akibat apa yang akan ditunggu hingga jabatan Jokowi selesai, sama dengan membiarkan fondasi berakar kuat dan semakin kokoh bangunan diatasnya. Simalakama.



Maka, KAMI menghadirkan diri. Dia adalah simbol bagi wajah khawatir banyak pihak yang merasa terdesak akibat jalan benar negara ini bergerak. Banyak kenyamanan tak terusik tiba-tiba terdesak, dan mereka khawatir.

Menunggu 2024 dan pasti kalah, atau menjatuhkan Jokowi hari ini, paling tidak itulah pilihan yang ada.

Banyak anak panah telah mereka tembakkan pada pemerintahan ini. Banyak yang tak mempan namun ada pula sebagian mengenai tubuh bernegara bangsa ini dan dibiarkan.

Intoleransi misalnya, di mata rakyat, sekaligus di mata para pembencinya, itu adalah kelemahan. Dari sana serangan akan terus di buat.

KAMI menampung itu semua. Untuk saat ini, mereka tidak pilih-pilih tentang siapa yang ingin bergabung. Semua pembenci Jokowi adalah teman. Sesimpel itu.

Apakah isinya adalah mereka yang sakit hati dan kalah, sekali lagi, ini bukan tentang barisan sakit hati semata, ini adalah tentang masa depan di mana negara tidak lagi dapat menjadi sapi perah bagi segelintir elit seperti Indonesia yang sudah-sudah. Ini adalah tentang PARADIGMA.


Indonesia yang lemah adalah lahan empuk bagi parasit negara dan surga bagi para kapitalis asing, sekaligus bukan ancaman bagi eksistensi negara lain. Indonesia yang besar dan kaya adalah ancaman.

Indonesia dibawah Jokowi telah masuk pada paradigma benar tentang bagaimana seharusnya negara dan bernegara. Ini yang akan mereka lawan.

Menjatuhkan Jokowi hari ini adalah pilihan logis bagi masa depan mereka. Membuat tumbang pemerintahan Jokowi di tengah jalan sepertinya adalah tentang makna KAMI dibentuk 18 Agustus 2020.

Apakah kegiatan makar dapat kita sematkan pada kelompok itu, biarkan petugas keamanan menilai. Yang jelas, rasa takut sudah muncul dengan drama akun dibajak.

Siapa yang terlanjur hidup dan bangga dengan paradigma lama adalah siapa yang hari ini takut dengan perubahan. Bukan tentang berubah dari buruk menjadi baik, ini tentang perubahan yang membuat mereka tak nyaman dan tersingkir.

Siapakah itu? Tentu penghuni lama. Tentu mereka yang telah lama kenyang dan kini takut lapar. Tentu adalah mereka yang tak biasa bersaing karena selalu bersembunyi dalam benteng negara yang dulu selalu dapat mereka ciptakan. Mereka adalah para pecundang negara, dan hari ini, mereka masih bermimpi bahwa masa lalu adalah hal terbaik.


Lihat siapa-siapa deklarator KAMI! Cermati siapa mereka dahulu. Adakah narasi "menyelamatkan" yang disematkan dalam moto perjuangannya adalah tentang negara dan rakyat?

Maaf, mereka terlalu tua menjadi pendorong utama mesin negara ini berputar dan ngebut, apalagi menyelamatkan.

Bukan melulu soal fisik, paradigma merekapun sudah usang bagi bagaimana sebuah negara modern harus bergerak dan maju.

Sorry, you are an old machine that is too old for the performances we want.

 

RAHAYU

Karto Bugel

 

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA