ISLAM, MARXISME DAN 'ILMU KUMUNIH


Ada satu pernyataan dari Tan Malaka - Bapak Pendiri Republik - yang sangat menggetarkan. Tapi pernyataan itu juga sulit untuk dicerna generasi Indonesia yang sudah 32 tahun dicuci otak, diindoktrinasi oleh rezim Orde Baru.
Tan Malaka menyatakan : "Di hadapan Tuhan, kami Islam, seislam islamnya! Tapi dalam perjuangan melawan Kapitalisme, kami Marxis, semarxis marxisnya!"
Islam dan Marxisme adalah satu garis perjuangan, sebelum republik ini dibentuk di awal abad 19. Sama sama anti penjajahan dan sama sama anti kapitalisme. Juga anti feodalisme.
Komunis - dalam pandangan masa itu - dianggap sesuai dan sejalan dengan ajaran Islam karena sama-sama membela kaum "mustada’afin", kaum yang tertindas atau kaum "proletar" dalam terminologi Marxist.
Dalam ajaran Islam maupun dalam konsep Marxisme, harkat semua manusia setara.
Ketika berpidato dalam pertemuan Komintern IV, di Moskow, tahun 1922, Tan Malaka menyampaikan gagasannya, ada kolaborasi Muslimin dan kaum Komunis sebagai strategi perjuangan revolusioner menumbangkan kolonialisme dan imperialisme yang sudah jelas-jelas menjadi penghisap di tanah ini.
Di sisi lain, Tan Malaka juga menginginkan kebangkitan Islam jangan cuma dianggap sebagai oposisi biner dalam skema dikotomis “Islam” vs “Barat”, namun harus dilihat pertentangan antara perjuangan akan keadilan yang memang dirindukan seluruh manusia - yang menentang penghisapan dan eksploitasi manusia oleh manusia lain.


Tan Malaka menyatakan argumen ini berseberangan dengan kebanyakan elit Komintren yang memaknai Pan Islamisme sebagai varian kekuatan borjuasi yang nantinya akan mengusulkan imprealisme.
Menggabungkan semangat Islam dan Komunisme, dalam satu sikap kebangsaan, disampaikan Tan Malaka berpuluh tahun sebelum Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) menjadi jargon politik Presiden Soekarno. Di Moscow dalam kongres Komunis Internasional (komintern) tahun 1922, dia mengajukan gagasan kerja sama Komunis dan Pan Islam. Meski kandas.
Datuk Ibrahim Tan Malaka (1894 - 1949) adalah tokoh pergerakan yang mewakafkan hidupnya untuk kemerdekaan kaum Melayu - ketika nama Indonesia belum disebut - dan dia menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat tinggi di Belanda.
Pihak pertama yang kemudian mengidentikkan Komunis Marxis sebagai "kelompok anti tuhan" dan "anti agama" adalah pemerintah Hindia Belanda yang kerepotan menghadapi tumbuhnya gerakan perlawanan gaya baru dari kaum bumi putra.
Dan sebutan itu dipertahankan oleh rezim Orde Baru Suharto serta kroninya hingga hari ini.
ADALAH Zainuddin Labay, tokoh Sumatera Thawalib yang membiarkan murid-muridnya –termasuk Djamaloeddin Tamim dan Datuk Batuah, untuk belajar Marxisme, Sosialisme, dan Komunisme langsung dari buku buku aslinya.
Zainuddin Labay El Yunusy adalah seorang ulama reformis dari Minangkabau. Ia bersama Haji Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya HAMKA) merupakan tokoh penting pada awal pendirian sekolah atau perguruan Islam modern "Sumatra Thawalib" di Padangpanjang, Sumatra Barat pada masa penjajahan Belanda.
Sumatera Thawalib didirikan dan dipimpin Haji Rasul, ayah Buya Hamka pada 1912. Diakui sebagai sekolah modern Islam pertama di Indonesia. Perpustakaan di sekolah ini, selain mengoleksi kitab-kitab agama, juga buku-buku politik, ekonomi, sosial dari macam-macam negara.
Gairah mempelajari Marxisme di pesantren mendapat sokongan para tokoh-tokoh Islam Minang di perantauan. Salah satunya adalah bantuan Syekh Ahmad Wahab kepada para "kaum merah" yang lari dari kejaran Belanda.
Syekh Ahmad Wahab adalah salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang tinggal di Bangkok.
Dalam sebuah buku stensilan yang ditulis Djamaloeddin Tamin - pendiri PKI Minang - tentang sejarah PKI yang terbit 1957, diungkap sebagai berikut :
"Di Padang Pandjang, sebuah kota ketjil di Sumatera Tengah tempat berkumpul dan pusatnja pesantren Agama/Mahasiswa Ilmu Gaib dari seluruh Sumatera, sudah sedjak awal tahun 1920 di sana pun sudah mulai menjebut2 tentang Sosialisme-Komunisme Sarikat Merah, walaupun pada permulaannja makanja Padang Pandjang menjadi pusat kaum merah, menjadi kota merah di Sumatera, hanjalah mendirikan BOPET MERAH sebagai tjabangnja Koperasi kaum Merah di sana, jakni lima enam bulan sebelumnja lahir PKI di Semarang tahun 1920."


"Bopet Merah" atau "Cafe Merah" adalah warung koperasi organisasi komunis (masih ada sampai sekarang berjbah jadi kantin.pen)
Bopet berasal dari bahasa Perancis, 'buffet'. Artinya rak yang berdiri di ruangan makan, tempat menyimpan makanan untuk disajikan.
Datuak Batuah, dedengkot Cafe Merah atau Bopet Merah, merupakan kawan seperguruan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Hasyim Ashari (pendiri Nahdlatul Ulama). Mereka bertiga murid Syech Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, guru besar sekaligus imam Masjidil Haram, Mekkah.
Datuk Batuah adalah seorang yang hidup dengan latar pendidikan agama yang kental. Ia sempat menimba ilmu di Mekkah dari tahun 1909 – 1915. Kemudian kembali ke Padang Panjang dan mengajar di Sumatera Thawalib, sebuah sekolah yang dikelola para tokoh pembaruan Islam di Minangkabau seperti Haji Rasul, Haji Abdullah Ahmad dan Syaikh Djamil Djambek.
Datuk Batuah mendapat pengaruh Haji Misbach, tokoh komunis Jawa, setelah menghadiri Kongres Partai Komunis dan Sarikat Islam Merah, awal Maret 1923. Kala itu, Haji Misbach tampil memukau hadirin lewat pidatonya yang memadu-padankan dalil-dalil Qur'an dan Hadist dan ajaran Marxisme.
HAMKA, Ketua MUI pertama - putra Haji Rasul, mengenangkan Datuk Batuah dalam memoarnya . "Seorang komunis tulen yang masih memeluk Islam. Di dekatnya, para komunis yang anti-agama harus hormat!"
ILMU KUMUNIH adalah dialek Minang untuk sebutan paham Komunisme yang diajarkan Datuk Batuah di Sumatera Barat.
Batuah yang mendalami Islam yang kua, menjadi propagandis Komunis. Di Sumatera Thawalib lah ajaran "Ilmu Kumunih" disebarkan Datuak Batuah.
TAN MALAKA bersama diaspora para pejuang kemerdekaan Indonesia yang bernaung di bawah Partai Komunis Hindia (PKH) lari dari kejaran intelijen Algemene Recherce Dienst (ARD) pemerintah Hindia Belanda pasca pemberontakan gagal pada 1926.
"Kaum Merah" atau Islamis Komunis itu berpindah-pindah tempat mulai dari Bangkok - Hongkong - Manila-Singapura - Amoy - Selangor - Johor dan tempat lainnya. Bertahan hidup dengan pekerjaan apa saja dan menyamar dengan beragam status. Tan sendiri memiliki selusin nama sepanjang penyamarannya.
Putra Nagari Lumuik Suliki Sumatera Barat ini menggengam kuat cita-cita Indonesia Merdeka di tengah penyakitnya yang kambuh saat dingin menyerang.


Fitnah keji yang disebar oleh Pemerintah Hindia Belanda bahwa kaum komunis "anti-Tuhan" dan "anti-agama" sempat membuat marah Adam Galo, saudara Djamaloeddin Tamim, teman seperjuangab Tan Malaka. Adam sengaja berangkat ke Singapura hendak membunuh Tamim yang dikabarkan "anti-Tuhan" dan "anti-agama" karena itu aib - mencoreng arang di jidat keluarga Minang. Namun Tamim berhasil meyakinkan saudara tuannya.
Dalam salah satu perdebatan Tamim mengatakan, “Di hadapan Tuhan, kami Islam seislam-islamnya, tapi dalam menentang kapitalisme, kami Marxis semarxis-marxisnya!”
Ungkapan itulah yang dikutip dan dipidatokan oleh Tan Malaka kemudian. Dan menjadi semboyan kaum Muslim Kiri. ***


Dikutip Dari Akun Facebook;

Supriyanto Martosuwito






 

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA