IRAN DAN AFGANISTAN SEBELUM REVOLUSI,




Sebelum jatuh ke kaum Mullah dan milisi Taliban, masyarakat Iran dan Afganistan merasakan kehidupan bebas dan modern selayaknya warga Indonesia pada masa kini dan masa lalu yang sama.

Mereka menghabiskan akhir pekan ke tempat rekreasi, membawa keluarga ke bioskop dan mengikuti fashion. Ada grup band, gadis dan bujang tampil modis, trendy mengikuti mode majalah selayaknya anak muda generasinya di kota besar dunia dan belahan bumi yang lain.

Puritanisme agama (Islam) lah yang menghancurkan mereka. Kaum mullah di Iran dan milisi Taliban yang bengis di Afganistan dan Pakistan.


Sejak Revolusi Islam di Iran (1979) gerak perempuan negeri Parsi itu di muka publik kian terbatas. Negara mengatur penmpilan warganya hingga wilayah privatnya dalam hal ini adalah kebebasan berekspresi (berbusana) oleh pemerintah.

Alhasil gelombang protes perempuan Iran mengenai aturan busana di negaranya pun kian bergulir. Para perempuan kerap menolak jika persoalan pakaian mereka diatur. Tapi rezim bergeming.

Pusat Studi Strategis Iran, pada 2006, yang mengungkapkan bahwa 34 persen warga Iran beranggapan pemerintah tidak boleh diizinkan mengatur apa yang harus dipakai perempuan. Di 2014 persentase penolakan tersebut meningkat hingga 49 persen.


Memasuki 1983, parlemen Iran menegaskan bagi perempuan yang tampil tanpa jilbab di muka umum akan dihukum dengan 74 cambukan. Tak sedikit warga Iran yang meninggalkan negara mereka karena tidak tahan hidup di bawah aturan pemerintahan Ali Khamenei.

Dan paham yang sama, sejenis itu - kini juga sedang ditanam di alam pikiran generasi muda Indonesia. Indonesia pun akan menjadi "Indonistan"!

Sebagaian remaja kita sudah menjadi korbannya, tercekoki Islam fanatik Salafi - Wahabi, Ikhwanul Muslimin, HTI dan kelompoknya yang semuanya membawa ke peradaban gurun Sahara abad pertengahan. Mundur ratusan tahun.

Mereka dicuci ajaran intoleran melalui cuci otak di tablik-tablik,

di Liqo, Rohis di sekolah sekolah menengah dan masjid masjid kampus. Mengganti sebutan dan panggilan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab.

Warga yang paling terkena dampak puritanisme Islam dan menjadi korbannya adalah kaum perempuan dan anak anak.

Karena itu "budaya baru" berdasarkan agama benar benar menindas dan penjajahan peradaban bagi mereka.


Berbeda dengan wanita Arab Saudi yang ratusan tahun sudah terkungkung seumur hidupnya, perempuan Iran dan Afganistan pernah merasai kebebasan.

Jika mengamati majalah di tahun 1970-an perempuan di Iran memiliki gaya busana layaknya bintang Hollywood. Para perempuan Iran berbusana kasual lengkap dengan riasan wajah dan rambut yang ditata ala bintang Hollywood yang gemerlap.

Apalagi sosok Ibu Negara mereka, Ratu Farah Pahlavi juga cantik jelita bak bintang film dan menjadi standar perempuan Iran yang sempurna. Queen Farah kerap tampil dalam balutan dress dengan rambut disanggul ke atas dan pakaian yang stylish kala itu.

Queen Farah Diba juga terkenal menjadi 'special client' para desainer rumah mode di Paris

Pemandangan yang sama dapat kira lihat di Kabul, dan kota lainnya di Afganistan. Cerita novel "Kite Runner" pemburu layang layang memaparkan jelas sebelum dan sesudah Taliban datang. Kehidupan masyarakat di Afganistan masa itu tak beda dengan di Indonesia.

TAPI apa yang terjadi di sana akan berlangsung di negeri kita Indonesia jika tak ada perlawanan.

Perda-perda Syariah mulai diperlakukan di sejumlah daerah untuk mendiskriminasi perempuan dan non muslim.

Budaya lokal, warisan leluhur dipinggirkan. Semakin terkurung dalam jilbab dan semakin picik dan terbelakang pola pikir mereka. Mati sebelum mati. Sudah di akhirat bahkan sebelum sampai akhirat.

Di Iran, setelah revolusi Mullah, marak anggapan perempuan yang tidak berjilbab seperti orang yang telanjang. Di sini ustadz ustadz puritan mulai teriak, perempuan yang tak berjilbab membuat laki laki kehilangann amalnya karena harus melihat mereka. ***

Ditulis Oleh;

SupriyantoMartosuwito

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA