HTI TERPERANGKAP BANSER

 


Salahkah kita membersihkan sampah yang berserakan dihalaman kita ketika mereka yang seharusnya bertugas abai? Seharusnya tidak, apalagi bila busuk sebagai akibat ketika terlalu lama dibiarkan. Akan muncul banyak penyakit dan kita adalah yang paling berpotensi terkena imbas.

Demikian halnya dengan HTI, penyebar ideologi sampah. Mereka sudah lakukan itu dan kita sama-sama telah terdampak. Banyak saudara kita yang sudah terinfeksi dan parah.

Pembersihan yang dilakukan Banser di Pasuruan adalah salah satu contoh bahwa ada saat dimana ketika petugas yang seharusnya bekeja namun abai, kita ambil alih.

Banser tak lagi punya kesabaran atas sampah yang telah merusak tatanan hidup masyarakat dan terutama saat ulama yang mereka hormati diperlakukan dengan tak hormat.

Seharusnya petugas keamanan bekerja dan melakukan pembersihan itu.

"Kebablasan dong?"

Ketika ramai MUI berteriak marah dengan tarikan muka terlihat aneh, Banser tak lagi peduli dengan suara yang seolah berasal dari kaset rusak yang selalu repeat dan repeat lagi.

Tak ada keindahan apalagi ujaran benar dari kaset rusak, dia hanya bunyi-binyian berulang tanpa makna.

Februari yang lalu, pernah seorang kepala Staf Kepresidenan RI Jendral TNI (Purn) Moeldoko merekomendasikan BANSER NU sebagai Komponen Cadangan.

Bukankah makna cadangan adalah tentang mengganti pemain utama?



Bukankah ini adalah sinyal yang sengaja di berikan?

Sepertinya tak terlalu salah bila petugas keamanan tak memberi respon atas hal tak baik di Pasuruan dan kemudian rasa sebagai pemain cadangan bergejolak pada diri Banser menyaksikan pemain utamanya tak tampil.

Banser tampil, mengganti sementara mereka yang tak hadir.

Pernah mendengar istilah "Yurisprudensi"? Mereka yang bergerak pada ranah hukum dan biasanya adalah lawyer sangat paham istilah ini.

Apa yang pernah diputuskan oleh hakim di pengadilan dan kemudian inkracht, dapat dijadikan rujukan. Kira-kira seperti itulah arti mudahnya.

Bukankah kaum mereka, seringkali melakukan persekusi kepada banyak pihak yang tak sepaham dan pihak keamanan tak menghukum bahkan sekedar mencegah?

Dengan kata lain, hal-hal seperti itu pernah terjadi dan tidak ditindak. Tidak diproses dan apalagi mendapat hukuman? Dengan kata lain, mereka dianggap benar dan boleh melakukan hal itu sepanjang berbekal dengan jumlah dan keyakinannya?

Karena yang membiarkan adalah petugas keamanan, maka dengan kata lain, dapatlah kiranya itupun dibenarkan dalam konteks keamanan.

Disanalah yuriprudensi dimaknai. Ada contoh dan rujukan.



"Ngawur itu namanya!!"

Kadang, membuat sebuah interpretasi tak harus dimaknai dengan dalil-dalil sahih. Pernah suatu waktu, kejadian yang sama mereka lakukan dan kemudian dicontoh. Kenapa Banser harus merasa bersalah?

Kadang, interpretasi "mbablaspun" harus dilakukan ketika semua jalur telah buntu dan tak lagi ada jalan lain.

Hukum menyelamatkan hal yang lebih besar, seharusnya dilakukan siapa saja meski harus melawan arus.

Demikianlah ketika sampah sudah sangat mengganggu dan petugas yang sebenarnya tak lagi peduli dengan sampah itu, sudah selayaknyalah Banser tampil dan bergerak untuk membuat bersih.

Tak puas hanya melakukan apa yang telah mereka contohkan, kini NU juga bergerak dengan cara formal.

Dan...,seorang Ayik Heriansyah yang dahulu pernah menjadi pengurus HTI Babel dan kini adalah anggota LTN di PCNU Bandung melaporkan Ismail Yusanto eks Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ke Polda Metro Jaya, Jumat 28 Agustus 2020.

Ismail Yusanto dilaporkan karena masih menyandang jabatan Juru Bicara HTI, semetara HTI sudah menjadi organisasi terlarang di republik ini.

Lebih jauh, eks juru bicara HTI itu terindikasi masih terus dan terus mempropagandakan khilafah ala HTI yang bertentangan dengan Pancasila dan mengancam negara.

"Emang seberbahaya apa sih dia?"

Pernah tahu Libya? Negara makmur di Afrika, jauh lebih makmur dari Indonesia di tahun 2011 yang lalu, tiba-tiba menjadi salah satu negara bubar dan...,tak ada lagi harapan.

Ada jutaan rakyat muslim tak bersalah di sana yang kini hancur masa depannya.

Pada 23 Februari 2011, Ismail Yusanto merilis siaran pers berjudul “Seruan HTI untuk Kaum Muslimin di Libya Tumbangkan Rezim Diktator, Tegakkan Khilafah”.

Dalam siaran pers itu Ismail menyatakan, “penguasa Libya memimpin dengan penuh kezaliman, menggunakan tekanan, paksaan dan kekangan… rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang sangat dan kelaparan yang tiada terkira.”

Dan...,ketika Libya tumbang oleh keroyokan AS beserta Nato dan para mujahidinnya, pada Agustus 2011, sekali lagi situs HTI merilis siaran pers ucapan selamat atas tumbangnya “rezim tiran Qaddafi”.

Seorang Yusanto, seorang yang mengaku muslim Indonesia berteriak demi tumbangnya negara muslim di Afrika oleh Barat dari tanah Indonesia.

Tak butuh waktu lama, mereka, koalisi rampok yang dibanggakan Yusanto yang mengeroyok Libya, berpesta pora atas harta karun milik rakyat Libya.

Demkian pula kampnye HTI untuk perang Suriah, negeri dengan mayoritas penduduknya yang muslim, HTI menjadi corong yang sangat aktif dalam menyerukan jihad Suriah.

Pada Januari 2013, HTI bahkan sangat optimistis menyatakan bahwa “khilafah di Suriah sudah dekat”.

Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI, menyatakan, “Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khila!"

Disisi lain dia juga mempropagandakan kematian presiden Suriah, presiden sah sebuah negara "melumpuhkan kekuasaan Bashar, bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qaddafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar.”

Terlihat dengan sangat jelas bagaimana metode yang diusung HTI dalam mendirikan kekhalifahan adalah dengan metode destruktif.

Layakkah kita membiarkan seorang Yusanto terus berbicara tentang khilafah yang diyakininya sementara HTI sudah dibubarkan, untung NU memiliki seorang Ayik Heriansyah, dia tidak rela negaranya akan diperlakukan sama dengan Libya dan Suriah.

Dulu, ketika sebagai teman seperjuangan, Ayik tentu memiliki banyak data tentang Yusanto. Di sana, masa-masa kelam itu akan kembali diungkit dan dibuktikan.

Hukuman berat pada Pasal 82A ayat 2 pada UU No 2 tahun 2017 tentang perppu ormas siap menanti. Ada ancaman pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun".

"Itu kan sama Libya dan Suriah, lalu apa kaitannya dengan Indonesia?"

Oalaaah...mbuh lah..!!

Yang pasti NU telah bergerak. Banser telah berbaris, siapkah kita bersama mereka?

.

.

.

RAHAYU

Karto Bugel


Sumber Selengkapnya :
Peran HTI di Balik Kehancuran Libya dan Suriah Serta Ancamannya di Indonesia





Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,