DARI SOLO UNTUK INDONESIA

 

Dua terduga kembali ditangkap. Lima yang lain, sudah lebih dahulu diproses. Akankah peristiwa intoleransi yang sudah lebih dari lima tahun meraja di negeri indah ini dan terkesan dibiarkan negara mulai mendapat perhatian? Negeri indah dan kaya itu kini tertatih dalam berat langkahnya. Sementara, mendung tebal terlihat menggantung pada jalur yang akan dilaluinya, akankah badai menghalang, bukan tentang kita seorang.

Sejak AS dan Kerajaan Arab Saudi merasakan dan menikmati manisnya kemenangan "tanpa korban" dari warganya, itu menjadi inspirasi. Menjadi cara baru sebagai langkah bagaimana mengambil sumber daya alam negara-negara di timur tengah (minyak) tanpa berkeringat. Kerjasama antara AS dan KAS di Afganistan tahun 79-89 telah berhasil mempermalukan Unisoviet, simbol adidaya dari timur bahkan tanpa seorangpun tentara resminya terlibat.

Para Mujahid yang dimobilisasi KAS masuk melalui Pakistan. Tanpa ada kenal apa itu takut, mereka bertempur melawan salah satu pasukan elit dunia, Unisoviet. Adidaya masa lalu dari timur itu dipaksa menyerah kalah. 35.000 mujahid yang didatangkan dari seluruh penjuru Arab itu hanya memiliki satu motivasi, musnahkan musuh agama, KOMUNIS!

AS dan KAS dua negara yang berada dibalik para mujahid itu mampu mengalahkan musuh bebuyutan mereka dengan mudah dan dengan biaya murah. Itulah apa yang mereka dapat. KAS dan AS mendapatkan fakta bahwa, kelompok atas nama agama adalah alat yang hebat untuk digunakan dalam perang proksi. Dengan biaya sedikit mereka mau berperang tanpa rasa takut. Mereka adalah sumber daya global yang dapat dibawa dalam konflik lokal manapun. Mereka dapat menyuntikkan dimana saja dan kapan saja.

Satu tahun kemudian teori yang sama digunakan di Bosnia. Mereka suntikkan apa yang mereka miliki dan, sukses! Jadilah Balkan seolah terjadi perang agama. Bonus AS adalah 1000 mil jalur pipa yang dapat dibangun dalam waktu singkat melalui laut Kaspia. Agama adalah alat mutakhir  bagi perang melawan musuh yang "di asosiasikan" sebagai musuh Tuhan. Yang jelas, sejak saat itu KAS rajin sekali memberi bantuan pada banyak negara dalam hal agama dan pendidikan. Yang jelas, pernah ada kelompok Alqaeda untuk Afghanistan, Isis untuk Suriah dan sekitarnya. Keduanya, kepada siapakah mereka berafiliasi?


"Bagaimana dengan Indonesia?"

Radikalisme agama yang dimanfaatkan dalam merampok sumber daya alam sebuah negara, bukan lagi ranah abu-abu, dia sangat benderang.  Isis di Suriah, Boko Haram di Negeria hingga runtuhnya banyak negara kawasan Arab dan Afrika dalam apa yang dinamakan Arab Spring, adalah tentang pertikaian yang melibatkan radikalisme berlatar belakang agama. Dan lihat, selalu berakhir dengan pengambilan sumber daya alam pada negara yang kacau itu. Kebetulankah?

Lima-enam tahun yang lalu, seorang biasa saja yang berasal dari Solo secara mengejutkan memimpin negara ini. Kebijakannya yang tak biasa, yang tak seperti kebanyakan presiden sebelumnya, telah mendorong mereka yang kemarin diam dan bersembunyi, keluar. Mengambil alih Freeport, Mahakam hingga melarang ekspor mineral dalam bentuk ore adalah tantangan langsung kepada kekuatan tak terlihat.

Riuh suara protes dan bahkan intimidasi hingga persekusi terhadap mereka yang tak sepaham semakin intens dari tahun ke tahun seolah peristiwa terpisah. Sesaat, sepertinya negara diam. Mereka makin menjadi karena merasa negara takut. Negara seperti tak merespon derita banyak rakyat yang harus diterima karena kebencian kelompok itu pada sang pemimpin.

Mungkinkah presiden menunggu hingga semua sumber kekacauan itu keluar dan baru bertindak, tak mudah membaca gerak langkah beliau. Seberapa banyak dan seberapa kuat mereka, adalah informasi penting bagi negara mengambil posisi.  Seperti gunung es, apakah mereka yang keluar dan marah hari ini sudah mewakili, hanya mereka yang berkepentingan yang tahu. Hanya mereka yang paham, yang bisa melihat barapa banyak bagian yang masih bersembunyi.

Yang jelas, mereka telah menyusup pada banyak tempat bahkan hingga tempat terstrategis sekalipun. Tak ada institusi negara yang tak terkontaminasi.

"Apa kaitannya dengan radikalisme agama?"

Apa yang akan anda pikir bila data berbicara bahwa rakyat yang anti ormas radikal sebanyak 51,7 persen, yang tak bersikap sebanyak 39,2 persen, dan yang pro-ormas radikal sebanyak 9,0 persen? 9% adalah jumlah yang sedikit? Bagaimana bila 39,2% yang lain berpindah?

Bagaimana bila data bahwa 50 persen pelajar kita ternyata setuju dengan tindakan radikal? Sebanyak 52,3 persen siswa setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 persen membenarkan serangan bom?

Survei tersebut juga diunggah situs resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lipi.go.id.  Bagaimana pula bila anda diberitahu tahu bahwa Indonesia adalah salah satu negara pemasok pejuang ISIS, dengan lebih dari 700 orang Indonesia yang diyakini telah bergabung perang di Suriah dan Irak, sementara lebih dari 200 orang diyakini telah melakukan perjalanan kembali ke Indonesia setelah bertempur bersama ISIS?

Bagamana bila riset BIN tahun 2017 itu juga mendapati bahwa 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA dan sederajat, setuju dengan tegaknya negara Islam di Indonesia? Mungkinkah semua itu alamiah? Bukan karena ada pihak asing berada dibelakang mereka?

Terlalu naif!!

Serius Indonesia akan baik-baik saja?

Yang kita tahu, tiba-tiba kegiatan intoleransi atas nama agama begitu marak dan kita kaget. Yang kita tahu, tiba-tiba pilkada DKI bernuansa sara dan kita bingung. Yang kita tahu, tiba-tiba banyak kenalan dekat kita berubah. Sedikit demi sedikit kita mulai merasa asing dengan kampung kita sendiri.  Dulu, dari Solo dia menaklukkan Jakarta dan kemudian menjadi Gubernur. Tak butuh waktu lama, Presiden sudah dijabatnya.

Bermula dari Solo, si kurus ini mengubah Indonesia menjadi negara yang tiba-tiba jadi sorotan dunia. Decak kagum dan riuh pembicaraan sebuah negeri yang tiba-tiba bersinar, tak mungkin dilepas dari cara si Solo ini memimpin.  Benar bahwa selama lima tahun ini seolah negara tak hadir ketika kasus intoleransi muncul.

Benar bahwa beliau pernah berujar "saya sudah tidak ada beban lagi" dan sudah setahun ini janji yang ditunggu masih belum terealisasi. Marak kegiatan kaum intoleransi bahkan seolah semakin menggila. Secercah harapan, dian (api) kecil dan redup itu menyala dari Solo. Kapolri secara tegas memerintahkan Kapolda Jawa Tengah mengganti Kapolres Solo yang dinilai lambat menangani kasus intoleransi yang mengoyak rasa keadilan rakyat.

Tak terlalu penting bahwa info penggantian itu sudah direncanakan sebelumnya, namun tindakan tegas, terukur dan berjenjang mulai dari Kapolri, Kapolda dan berakhir pada Kapolres adalah poin penting itu sendiri. 

Negara hadir!

Penangkapan dua orang terduga, setelah lima orang sebelumnya yang telah ditahan adalah bukti, "TUMBEN" Polisi berani bertindak dan bahkan mengejar dan menangkap kaum intolreran yang bergerak secara massal.

Mungkin masih terlalu dini bagi kita memberi sorak meriah apalagi pujian, namun harapan kecil bahwa "sinergitas" pusat hingga daerah mulai terbangun dan kompak dalam kasus seperti ini adalah pemandangan langka. Ya...,dulu nama Jokowi terlalu kecil sebagai Walikota Solo akan menjadi Presiden dan apalagi mampu meruntuhkan dominasi dan cengkeraman raksasa kapitalis asing pada negeri ini.

Demikian pula, peristiwa intoleransi di Solo, seharusnya bukan hanya akan menjadi peristiwa kecil tentang perlawanan terhadap bandit skala Solo, namun akan berlanjut pada cara negara memporak porandakan kemampanan kaum intoleran yang terlihat mustahil. Berawal dari Solo cengkeraman kapitalis itu diruntuhkan, dari Solo pula kaki tangan jahat kaum imperialis dimusnahkan.

"Bukan halusinasi nih?"

Ulang tahun yang ke 75  Indonesia merdeka, seharusnya tentang kabar dan hadiah istimewa kepada rakyat diberikan. "Saya tidak ada beban lagi" sebagai ucapan berani Presiden, seharusnya memang tentang keberanian Presiden melawan kaum intoleran seperti beliau pernah berani melawan kapitalis asing itu.

DIRGAHAYU INDONESIA MERDEKA.

Sumber ;

RAHAYU

Karto Bugel

 

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,