ADA APA SIH DENGAN KAMI ITU?

 

Setahu saya negeri ini baik-baik saja, kok! Apalagi semua elemen bangsa baru saja merayakan peringatan 75 tahun Indonesia merdeka dengan hikmat dan penuh dengan kegembiraan. Lalu apanya yang harus diselamatkan?  Dan siapa yang yang mau diselamatkan? Karena hingga detik ini tidak ada suara mayoritas rakyat di negeri ini yang menjerit minta diselamatkan.

Ini tentu saja menjadi lucu, karena mereka-mereka yang bersuara lantang ingin menyelamatkan Indonesia justru dari kalangan orang-orang itu juga. Dan semua orang tahu siapa mereka! Tidak perlu dijelaskan lagi. Mereka adalah orang yang sangat tidak pantas mewakili apalagi mengatasnamakan rakyat. Mereka tidak punya partai, apalagi perwakilan di parlemen. Nonsense!

Seharusnya mereka itu malu mendeklarasikan sesuatu yang tidak jelas apalagi menggunakan Tugu Proklamasi sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah, kemudian mengajak rakyat yang sama sekali tidak paham tujuan sesungguhnya. Tentu saja menimbulkan kecurigaan, jangan-jangan hanya dilandasi rasa kebencian dengan Presiden Jokowi, lalu ada yang memanfaatkannya untuk tendensi dan kepentingan politik tertentu. Dan kemungkinan itu ada!

Sudahlah, mereka-mereka ini hanya segelintir orang yang senang memang berkumpul dan bersuara tapi sama sekali tidak didengar oleh rakyat. Rakyat sudah bosan dan muak melihat wajah-wajah itu, apalagi mereka-mereka adalah mantan orang-orang hebat yang pernah diberikan kesempatan duduk dipemerintahan tapi tak mampu berbuat apa-apa.

Mereka hanya bermimpi dan senang berilusinasi untuk medapatkan kekuasaan, bahkan menganggap dirinya paling hebat melebihi dari Presiden kita. Memangnya punya pengaruh? Sama sekali tidak ada apa-apanya, bahkan hanya akan menjadi olok-olokan oleh rakyat Indonesia sebagai bentuk kesia-siaan saja. Karena rakyat Indonesia sekarang sudah cerdas kok, rakyat hanya butuhkan pemimpin yang mau bekerja dan dilandasi dengan pemikiran yang original dan kreatif didalam mensejahterakan rakyat.



Lalu Ada Apa Sih, Dengan KAMI Itu?

Nah ini yang menjadi menarik, analis politik senior sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens, mengaku sudah mengantongi nama para tokoh oposisi yang ingin merancang kudeta terhadap pemerintahan yang sah di tengah krisis Corona saat ini.

Menurut Boni, kelompok ini ingin memakai sejumlah isu sebagai materi provokasi dan propaganda politik, di antaranya isu komunisme dan isu rasisme Papua menyusul gejolak akibat kematian warga AS berkulit hitam George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat.

“Isu lain yang mereka gunakan adalah potensi krisis ekonomi sebagai dampak inevitable dari pandemic Covid-19. Kelompok ini juga membongkar kembali diskursus soal Pancasila sebagai ideologi Negara,” ujar Boni melalui keterangan persnya, Kamis (4-6).

Boni menegaskan apa pun isu yang mereka gunakan, itu hanyalah instrumen untuk melancarkan serangan-serangan politik dalam rangka mendelegitimasi pemerintahan yang sah saat ini. Boni menilai kelompok ini tidak bisa disebut sebagai “barisan sakit hati” semata karena ini bukan lagi dendam politik semata. Mereka adalah “laskar pengacau negara” dan “pemburu rente”.


Boni menyebut mereka adalah gabungan dari: (a) kelompok politik yang ingin memenangkan pemilihan presiden 2024, (b) kelompok bisnis hitam yang menderita kerugian karena kebijakan yang benar selama pemerintahan Jokowi. Selanjutnya, (c) ormas keagamaan terlarang seperti HTI yang jelas-jelas ingin mendirikan negara Syariah, dan (d) barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang.

Untuk itu, Boni Hargens lebih suka menyebut mereka sebagai “laskar pengacau negara” ketimbang “barisan sakit hati”. Mereka pengacau karena ingin merusak tatanan demokrasi dengan berusaha menjatuhkan pemerintahan sah hasil pemilu demokratis.

Lebih lanjut, Boni mengatakan mereka juga pengacau karena ingin mempertanyakan kembali Pancasila sebagai ideologi negara.

 

Ada intensi untuk menuduh Pancasila sebagai bukan ideologi. Mereka juga “pemburu rente” karena memiliki orientasi mencari keuntungan finansial. “Ada Bandar di balik gerakan mereka, mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas. Bandar menengah misalnya oknum pengusaha pom bensin dan perkebunan asal Bengkulu, dan bandar papan atas ya tak perlu saya sebutkan di sini,” ujar Doktor Filsafat yang pernah studi di Jerman dan Amerika Serikat itu.



Boni menyayangkan tokoh seperti Din Syamsuddin ikut di dalam gerakan itu. “Beliau kan panutan umat, tokoh yang didengar banyak orang. Menurut Boni, tidak bijak jika ikut berkecimpung memperkeruh kolam yang bersih. Negara ini butuh negarawan dari segala lapisan supaya bisa menjadi bangsa besar. Tokoh agama dan intelektual adalah panutan masyarakat.

 

“Maka, harus ada keteladanan moral dalam bertindak dan berbicara di ruang publik,” kata mantan inisiator relawan Jokowi tersebut. “Saya juga heran dengan Bung Refly Harun. Kenapa menjadi begitu galak setelah tidak menjadi komisaris? Kan jadinya ada kesan tidak baik seolah-olah ada vested interest di balik kritisisme beliau terhadap pemerintah,” katanya.

 

“Banyak cara kok untuk memberi masukan pada pemerintah, tanpa harus membuat gelombang keresahan yang merugikan masa depan bangsa dan negara,” pungkasnya.


Direktur LPI Sebut Din SyamsudinPerancang Kudeta

Seharusnya mereka sadar, paling tidak punya keinginan untuk ikut berkontribusi bersama-sama pemerintah bagaimana memikirkan bangsa iniuntuk menyelamatkan perekonomian kita dimasa pandemi covid 19, termasuk seperti apa empat tahun kedepan menuju Indonesia maju. Bukan sebaliknya bermimpi untuk menjatuhkan Presiden yang sah, sebab sekarang bukan lagi eranya untuk berandai-andai, tapi sudah saatnya orang-orang yang lebih muda mengambil peran di negeri ini untuk kemajuan bangsa dan negara.***


Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,