Tuntutan Dan Tantangan Budaya Literasi di Era Digitalisasi Milenial,


Di Saat pelantikan Bapak Joko Widodo sebagai Presiden RI untuk periode 2019-2024, beliau mengingatkan dihadapan wakil rakyat dan bangsa Indonesia dalam berapa puluh tahun kedepan bonus demografi menjadi salah satu poin penting yang akan menjadi tuntutan dan tantangan generasi bangsa kedepan! Mengapa? Karena Indonesia pada 2030 - 2040 diprediksikan akan memiliki penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun.

Dengan bonus demografi ini paling tidak lima tahun ke depan akan menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia  yang dinamis, kreatif, inovatif, terampil dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi, sehingga generasi-generasi bangsa berikutnya mampu melahirkan talent-talent muda yang mampu bersaing didalam memajukan negeri ini. Selain itu diharapkan akan menjadi pemimpin-pemimpin hebat dimasa mendatang.

Mencapai kemampuan itu tidak bisa lagi dilakukan dengan cara lama. Tapi membutuhkan sebuah mimpi dan impian besar dengan cara-cara baru. Peningkatan inovasi, kreatifitas serta kemampuan didalam melakukan transformasi literasi harus menjadi pilihan, dengan kata lain meningkatkan minat baca dan menulis. Sebab peradaban manusia dengan budaya literasi sama halnya dengan organ manusia yang tidak bisa terpisahkan bahkan terintegrasi satu dengan lainnya. Sehingga menjadi tantangan bersama bangsa ini yang harus dimulai dari sekarang.

Literasi menjadi penting karena akan mencerminkan maju tidaknya sebuah peradaban baru dalam setiap negara, apalagi seperti Indonesia, dimana kemampuan literasinya berdasarkan hasil skor PISA ( Programme FOR international Student Assesment) tahun 2018 sangat memprihatinkan, Indonesia berada di peringkat 70 dari 78 negara yang masuk dalam organisasi OECD dalam hal membaca. Sehingga disimpulkan bahwa masyarakat kita dikategorikan sebagai bangsa yang memiliki kerendahan minat didalam hal kegiatan membaca dan menulis. Sumber silahkan klik link; hasil skor PISA ( Programme FOR international Student Assesment) tahun 2018 

Dari hasil skor PISA, dibutuhkan peran orang tua dan kepiawaian Bapak Nadiem Makarim selaku KEMENDIKBUD untuk melakukan langkah-langkah terobosan untuk meningkatkan kualitas literasi di Indonesia sejak usia dini yang duduk dibangku Sekolah Dasar, Menengah, Atas hingga keperguruan tinggi sehingga generasi bangsa ini kedepan mampu bersaing menghadapi betapa dahsyatnya arus revolusi global digitalisasi kedepan.


Menurut, National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam sebuah pekerjaan, keluarga dan masyarakat, jika kemampuan itu tidak terpenuhi, maka dengan sendirinya akan kesulitan didalam mengakses informasi global diera digital.  

Akses didalam memanfaatkan media daring dengan menggunakan gadget adalah salah satu budaya yang perlu terus ditingkatkan diimplementasinya sehingga tidak menjadikan anak-anak kita 'melek’ literasi dan membiasakannya membaca berita atau informasi secara utuh dan benar bukan justru hanya membaca judul saja lalu mengabaikan konten narasinya. Ini cara adalah cara keliru sehingga berpotensi menggemari berita-berita hoaks di media sosial. 

Mari memulai sejak sekarang mengedepankan pemikiran-pemikiran produktif dan positif yang disertai tekad dan komitmen kuat dari diri sendiri untuk menjadikan sebuah keinginan dan spirit bersama dalam memperbanyak waktu untuk membaca dan belajar menulis dengan menjadikan sebagai budaya baru. ***

Tulisan ini sebelum dimuat di Halaman Kompasiana.com
pada tanggal 21 Juli 2020 dengan Judul :
 

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,