Sosok Sang Jenderal Yang Layak Diteladani,

“ Ibarat Avatar, yang lahir dari rahim ibu pertiwi untuk membereskan semua kekacauan yang
ada”. Viral dimedia sosial terkait humor “ Gus Dur tentang tiga polisi jujur “ seorang pria di Maluku Utara dibekuk pihak berwajib usai mengunggah melalui akun Facebook pribadinya, Mail Sula, belum lama ini. Tentu saja menuai protes dari publik yang menilai bahwa sikap aparat kepolisian berlebihan apalagi dalam unggahannya, Ismail juga mencantumkan nama Gus Dur sebagai orang yang melempar lelucon soal tiga polisi jujur.


Dengan kejadian ini, memunculkan keinginan saya untuk saling berbagi dengan publik secara luas, seperti apa sesungguhnya sosok Sang Jenderal yang layak untuk diteladani itu.
Hoegeng Imam Santoso ternyata bukanlah polisi biasa, ia juga merupakan tokoh besar sekaligus sosok yang patut diteladani oleh bangsa kita. Di tengah lesunya kepercayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian saat itu, Hoegeng tampil ke hadapan publik dengan profilnya yang sederhana serta kejujurannya yang luar biasa.
Bahkan, ketika ia pun menjabat sebagai pimpinan kepolisian tertinggi di Indonesia kala itu tetap tidak berubah. Hoegeng tetap Hoegeng. Begitu kira-kira!
Mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso. Hoegeng merupakan sosok ideal polisi sepanjang masa. Sikap bersih, sederhana, jujur dan tegas, mengantarkan Hoegeng menjadi legenda di kepolisian. Pelaku kejahatan tak berkutik selama Polri berada di bawah kepemimpinannya.
Namun, keberanian Hoegeng membuatnya diberhentikan dari jabatan Kapolri. Dia rela hidup pas-pasan demi menjaga integritas. Say no to bribe! Terima suap dan gratifikasi tak ada dalam kamus hidupnya.
Tak heran jika setelah pensiun dari kepolisian, Hoegeng tidak punya rumah pribadi. Hanya ada rumah dinas di Jalan Muhammad Yamin, Jakarta. Dia juga tak punya mobil pribadi. Menyaksikan keadaan itu Kapolri pengganti, Mohammad Hasan, berinisiatif mengalihkan rumah tersebut menjadi atas nama Hoegeng.


Sejumlah kapolda juga iba kepadanya. Mereka lalu saweran dan membelikan mobil Holden Kingswood. "Itu satu-satunya mobil setelah Bapak pensiun," kata Aditya S Hoegeng dalam tulisannya, Saya Bangga Menjadi Anak Pak Hoegeng.
Aditya teringat saat 2 unit sepeda motor Lambretta datang ke rumah, ketika sang ayah masih menjadi Kapolri. Seorang pengusaha otomotif yang mengirim. Jatah buat pejabat. Anak kedua Hoegeng itu senang luar biasa karena sudah lama ingin memiliki sepeda motor.
Namun, Hoegeng langsung memerintahkan ajudan untuk mengembalikan sepeda motor tersebut. "Saya sempat kecewa tapi kami bisa memahami sikap Bapak," kata Aditya.
Ada banyak kisah yang membuktikan betapa polisi yang satu ini begitu teguh menjunjung tinggi kejujuran dan mengabdi tulus pada masyarakatnya. Berbagai suap dan sogokan menggiurkan yang menghampirinya, ia tolak mentah-mentah.
Di bawah ini ada tiga kisah membanggakan beliau yang dijamin membuat hati kita terenyuh dan tersenyum haru bahwa dulu pernah ada polisi super seperti beliau.
Meminta sang istri menutup toko bunganya,
Kisah ini menjadi salah satu yang paling dikenang dalam riwayat kisah hidup Hoegeng. Di awal masa jabatannya sebagai seorang perwira, gaji yang diterimanya tidaklah seberapa. Oleh karena itu, istrinya, Merry Roeslani, berusaha membantu meringankan beban sang suami dengan membuka toko bunga.
Seiring perjalanan karier yang mulus, pada tahun 1960, atau tepat satu hari sebelum Hoegeng resmi dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kemudian diubah menjadi Dirjen Imigrasi), ia meminta Merry untuk menutup toko bunganya. Padahal, saat itu bisnis tersebut sudah berkembang sangat maju dan laris diburu pembeli.
Namun, selaku istri yang baik dan selalu mendukung suaminya, ia mengiyakan. Merry paham benar, bahwa suaminya ingin agar keluarganya senantiasa hidup jujur dan bersih, dan tak mau jika nantinya orang berbondong-bondong datang ke toko bunganya hanya karena ingin “dipermudah” urusannya oleh sang suami. Lebih baik ia hidup pas-pasan ketimbang makan uang haram seperti itu.
Mobil dan rumah mewah tak mampu mengikis kejujurannya,
Pada tahun 1955, Hoegeng mendapat amanah untuk bertugas di kota Medan. Seperti kota-kota besar lainnya, kejahatan sudah begitu merajalela di tempat sini. Para petinggi aparat hukum maupun militer telah menjelma menjadi kacung gerombolan penjahat. Berbagai suap serta sogokan berupa kendaraan mewah, perabotan mahal, hingga wanita berhasil membutakan nurani mereka.
Mengetahui Hoegeng sudah mulai bertugas di Medan, para bandar judi di kota itu mulai bergerilya melancarkan “jurus” yang sama. Mobil mewah hingga rumah gedongan sudah disiapkan untuknya. Tapi, Hoegeng menolak. Ia lebih memilih untuk tinggal sementara di sebuah hotel hingga rumah dinasnya siap.
Setelah pindah ke rumah dinas, alangkah terkejutnya ia mendapati rumah tersebut telah terisi berbagai benda mahal nan mewah yang diketahui merupakan “pemberian” para penjahat. Ia yang sudah geram, kemudian meminta para bawahan hingga kuli bangunan di sekitar untuk mengeluarkan barang-barang tersebut serta menyimpannya di depan rumah begitu saja. Luar biasa.
Menolak rayuan penyelendup cantik,
Sekitar tahun 1960-an, Hoegeng yang saat itu sudah menjabat Jenderal, didatangi oleh seorang wanita asal Makassar. Wanita berparas cantik dan bertubuh aduhai ini mengaku seorang pengusaha. Tentu ada maksud terselubung terkait kedatangannya.
Ia meminta supaya kasus yang membelitnya layaknya pengusaha yang tak pantang menyerah, ia tak putus asa begitu saja dan kemudian “menghadiahi” Hoegeng dengan berbagai barang dan furnitur mewah, yakni peralatan elektronik hingga bahan pakaian premium.
Sayang, respons Hoegeng tetap sama. Ia dengan tegas menolak dan mengembalikan barang-barang tersebut.
Ironisnya, para koleganya di kepolisian, bea cukai, hingga kejaksaan membujuknya supaya ia melepas wanita tersebut. Hoegeng yang kesal dan keheranan, mendapati bahwa mereka telah disuap oleh wanita tersebut. Entah itu uang, barang mewah, hingga tubuh molek gadis itu sendiri.
Wanita ini ternyata merangkap pelacur yang tak segan menjajakan tubuhnya demi memuluskan bisnis ilegalnya.
Namun, Hoegeng tetaplah Hoegeng. Berbagai suap mewah hingga rayuan berahi dari wanita cantik dan seksi sekalipun tak mengubah tekad kejujurannya. Pada akhirnya, wanita tersebut diadili dan dihukum sesuai kesalahannya.
Itulah kisah teladan dari polisi super kita, Hoegeng Imam Santoso. Sosok yang tak kenal ampun dan kata kompromi dalam memberangus kejahatan serta menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Membaca kisah menawan ini, tentu kita berharap supaya para petinggi polisi lainnya dapat mencontoh sikap beliau. Untuk tetap hidup sederhana dan menajalankan amanah sejujur-jujurnya.***
Dikutip Dari Berbagai Sumber.

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,