SELAMAT JALAN PAK SAPARDI


Seorang penyair besar yang banyak menggunakan kata kata sederhana, menukil alam sekitar dan sarat makna, telah pergi. Beliau adalah Sapardi Djoko Damono. Kini sajak sajaknya mengiringi perjalanannya ke hadirat Illahi bersama doa kita untuknya.
Sebagaimana ditulis sendiri :
YANG FANA ADAKAH WAKTU
Oleh Sapardi Djoko Damono
"Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi." 1978

PADA SUATU HARI
Oleh Sapardi Djoko Damono
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
2013
HARI PUN TIBA
Oleh Sapardi Djoko Damono
Hari pun tiba. Kita berkemas senantiasa
kita berkemas sementara jarum melewati angka-angka
kau pun menyapa: ke mana kita
tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-daunnya
tiba-tiba terasa kita tak sanggup menyelesaikan kata
tiba-tiba terasa bahwa hanya tersisa gema
sewaktu hari pun merapat
jarum jam hibuk membilang saat-saat terlambat.
HUJAN BULAN JUNI
Oleh Sapardi Djoko Damono
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu,
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
1989

LAHIR di Solo pada 20 Maret 1940, Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang penyair dengan latar belakang akademis. Dia lulusan Fak Sastra Univ. Gajah Mada Jogyakarta.
Berbeda dengan WS Rendra sesama penyair dari Solo, yang atraktif dan meledak ledak, Sapardi berpembawaan kalm, tertib dan "mriyayi". Di panggung dia cenderung lirih dalam membawakan sajak sajaknya.
Selain puisi, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Indonesia ini juga membuat cerita pendek, menerjemahkan karya penulis asing, esai, dan sejumlah artikel di surat kabar.
Satu puisi karya Sapardi, “Aku Ingin”, menjadi inspirasi salah satu film garapan Garin Nugroho, "Cinta dalam Sepotong Roti".
Penyair yang juga pernah menjadi redaktur majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam" ini telah beberapa kali mendapatkan penghargaan, seperti "Cultural Award" (1978), "SEA Write Award" (1986), dan "Kalyana Kretya" (1996).
Prog. Dr. Sapardi Djoko Damono meninggal di usia 80 tahun pada Minggu pagi
pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka, BSD, Tangeran Selatan, setelah dirawat beberapa hari sebelumnya.
Selamat Jalan Pak Sapardji. Sajak sajakmu tetap abadi. ***

Ditulis Oleh;

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA