Puisi - Puisi Trisa,


PUISI
puisi adalah jalan sunyi
dekapan yang paling berbunyi
mengembara di lembah-lembah emosi
meretakkan tanah,
namun tulus menumbuhkan pohon pengertian
puisi nyaman tinggal di ujung sepi
tentang bulan sabit yang turun hati-hati
tentang memilih hidup atau mati
Yogyakarta, 29102017
GUGUSAN LANGIT TIMUR,
ruhku berseru mengikuti seribu angin sanggurdi
mendengar apa yang kudengar dari
helai-helai riwayat seruan rakyat
menanak jejak bagai almanak
di pematang kertas riuh tinta sajak
jika jejak melesak perjuangan berkerak
aku, pejuang yang enggan pulang
sebab palung sudah terarung
Oh mata sembab itu !
kuperam dari gugusan langit timur
telah terusap ubun-ubun nusantaraku
perjalanan ini, nun ribuan mil, menghabiskan peluh dan darah yang bersikukuh
memperjuangkan ;
di manakah mereka meletakkan cinta tanah airnya ?
kata-kata itu tajam kawan
kebencian membuatmu lapar
serupa sekam menikam tajam
sepertinya bumiku harus diutuhkan kembali
merawati hati yang miskin akan kecintaan
keniscayaan itu aroma, selebihnya ; suara hati yang terpendam, tertimbun air mata.
Yogya, 11agust'17
KEMERDEKAAN NURANI,
Kita pernah berdiri, sebagai pohon yang dikebiri demi kemegahan dan jati diri.
Tanah kita luka,bumi kita sembab.
Betapa benih-benih baru runtuh sebelum tumbuh.
Lenyap sudah hutan gambut awan berkabut.
Kita pernah berenang, sebagai ikan dipukat yang tiada tenang.
Bunyi kecipak sirip tiada terdengar lagi.
Kail dan joran jadi sahabat karib.
Rindulah ikan tempatnya benam garam.
Kita pernah berkumandang lagu Indonesia Raya yang terpandang.
Kemanakah suaramu yang garuda ?
Terkadang hilang dalam rimbunan sekepal daging yang dikoyak sebilah pisau.
Kemerdekaan bukanlah kata-kata.
Ia adalah adu mulut di gedung pemerintahan
Hitam yang diputihkan dan putih yang dihitamkan.
Rintihan orang-orang sakit yang terlantar karena birokrasi.
Sementara perempuan-perempuan menangisi penggusuran.
Pesta hiruk pikuk saling adu timpuk dalam satu periuk.
Anak-anak menangis menadah getir air susu yang sudah tak keluar lagi.
Buruh murahpun meruah tak tahu arah kemana harus bekerja.
Budi pekerti dipasung hedonisasi.
Budaya hanya ada di koran dan televisi tanpa perwujudan.
Sungguh kemerdekaan sudah kehilangan tembang.
Sungguh aku rindu hujan serupa senyum petani saat panen tiba.
Atau laksana kanak-kanak yang memainkan tradisi lama saat bulan purnama.
Duhai majas nusantaraku, aku rindu sesuatu yang kultum dari bibirmu.
Untuk mengerti air mata, haruskah meneteskan darah terlebih dahulu?
Yogya, 2902017
TRISA,
Co Founder
Inspiration Indonesian Culture(IIC).
Lahir di Solo 16 September, kini tinggal di Yogyakarta. Alumni Fak. Pertanian UNS ini telah menerbitkan buku puisi: Astungkara Cinta (2017) dan mencintai apa saja terkait dunia literasi.

Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,