MENGENAL LEBIH DEKAT FENDI KACHONK, TOKOH SASTRAWAN DALAM SUMENEP AWARD 2017


 

Sosok Penyair muda, seniman dan sastrawan dari Madura, lahir pada 14 Agustus 1982 silam. Besar dan menetap di Desa Moncek Tengah, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ia mulai menulis sejak dari pondok pesantren semasa masih nyantri dan bersekolah MTs Al-Ishlah, Moncek Tengah.


 


Fendi Kachonk, demikian namanya. Pernah menjadi pemimpin redaksi media di almamaternya bersamaan dengan puisinya berhasil dimuat di Majalah Sastra Horison, menjadi titik tolak minatnya di dunia literasi dan sastra terus berkembang dengan seiringnya waktu. Ia mendirikan dan membina Taman Baca Arena Pon Nyonar di Moncek Tengah sebagai salah satu bukti kecintaan pada dunia membaca dan menulis serta perannya dalam memajukan dunia tulis menulis di tingkat desa dan akar rumput. Di taman baca ini siapa pun boleh datang untuk membaca buku, belajar menulis sastra, dan diskusi tentang seni budaya.


Seiring dengan perjalanan dalam dunia literasi, Fendi terlibat dalam beragam organisasi. Seperti di Karang Taruna Kecamatan Lenteng (2012), Pengurus Ansor 2014, Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), Lembaga Pemberdayaan Pemuda Pedesaan (LPMP), dan sebagainya.


Keyakinannya untuk maju bersama orang-orang lain, khususnya kaum muda secara khusus di Kabupaten Sumenep, membuat ia mendirikan Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ).  Sebuah komunitas untuk belajar dan maju bersama dalam sastra dan teater dengan kegiatan pelatihan seni, penerbitan buku dan sebagainya. 


Selain itu, ia menghidupkan sekaligus menghidupi komunitas Tanian Kesenian Bluto (TKB) dan Forum Belajar Sastra (FBS). Dalam tiga komunitas ini, Fendi mengembangkan model belajar musik, sastra (puisi dan cerpen), dan teater. Latihan rutin, diskusi bersama dan juga pementasan secara aktif digelar bersama dengan orang-orang muda di Sumenep.

Pada Tahun 2014 lalu, Fendi mendapat kehormatan untuk menyusun buku kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia serta diundang menghadiri acara baca puisi dunia Numera bersama Hudan Hidayat, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, serta para penyair Asia lainnya. 

Di dalam negeri, Fendi pernah diundang sebagai pembicara maupun membaca karya di berbagai kota di Indonesia. Misalnya di Bandung pernah diundang dalam rangka pengenalan literasi dan seminar sastra untuk pelajar (SMPN 5 Bandung, 2014) dan mahasiswa (dari beberapa kampus di Jatinangor, 2014), bedah buku bersama Majelis Sastra Bandung (2015), dan sebagainya. Di Jakarta pernah diundang untuk bedah buku bersama Komunitas Sastra Reboan (2015), Yayasan Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki (2017), dan sebagainya. 

Di Surabaya pernah diundang dalam beberapa event misalnya pembacaan puisi dalam Binale Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) pada tahun 2016. Selain itu, juga pernah diundang di kota-kota lain oleh berbagai  komunitas di Kalimantan Barat, Malang, Mojokerto, Semarang, Yogyakarta, Tangerang Selatan, Lampung, dan sebagainya.

Bersama dengan Komunitas Kampoeng Jerami, Fendi membuat antologi puisi untuk hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada akhir tahun 2014 dengan  judul “Titik Temu”. Tema yang diangkat dalam buku ini adalah tentang HAM melibatkan penulis dari berbagai kalangan, dan  juga berbagai daerah di dalam maupun luar Indonesia. Siti Noer Laila, Ketua Komnas HAM RI waktu itu juga turut terlibat dalam buku ini dengan memasukkan satu puisi dan juga pengantar buku. Antologi ini menjadi inspirasi diskusi tentang HAM di berbagai kota seperti Sumenep, Surabaya, Malang, Bandung, Beng

kulu, dan sebagainya.


Puisi-puisinya tersebar di berbagai media lokal maupun nasional, juga di pelbagai buku antologi bersama. Buku antologi puisi yang pernah dilibatinya antara lain: buku antologi puisi Hujan Kampoeng Jerami (2014), Titik Temu (2014), Sandal Kumal, Untuk Kartini, Memo Untuk Presiden, Kopi Aceh dan sebagainya. Buku tunggalnya yang pernah terbit adalah Lembah Kupu-kupu (diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2013), Tanah Silam (diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2014), Surat dari Timur (diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2015,  dan Halaman yang Lain (diterbitkan Komunitas Kampoeng Jerami 2016). 


Selain itu, dia juga menjadi editor bagi beberapa buku khususnya yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami secara mandiri atau bekerja sama dengan komunitas lain. Sampai tahun ini Komunitas Kampoeng Jerami yang diasuhnya sudah menerbitkan puluhan buku penulis dari berbagai kota di Indonesia.


Salah satu karya Fendi Kachonk yang baru diluncurkan, silahkan klik link ;

Cuplikan Film Pendek. Ujicoba pertama Komunitas Kampoeng Jerami  


Selain itu Fendi Kachonk membacakan Puisi " SAJAK PALING DUKA YANG BISA KUTULIS  KARYA PABLO NERUDA peraih Nobel Sastra II ; Kebahagiaan terindah saat kita mampu menebarkan keindahan dan kebahagiaan. Kebahagiaan terkecil kadang lahir dari hal yang sederhana dan yang sederhana kadang mampu menghadirkan momen puitik dalam kehidupan. Maka hiduplah sebagaimana puisi. Semangat pagi indonesia.


Klik Selengkapnya; "PUISI PERAIH NOBEL SASTRA II KARYA PABLO NERUDA II SAJAK PALING DUKA YANG BISA KUTULIS"


Fendi Kachonk adalah sosok anak muda yang terus menumbuhkan budaya literasi di era digitalisasi milenial dan sepantasnya mendapatkan apresiasi mengingat karya2nya paling tidak akan inspirasi bagi generasi milenial dalam menumbuhkan gairah muda dalam mengembangkan dunia literasi diera milenial.***

 



Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,

Jokowi Akan Meninggalkan Legecy Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa,