Lelucon-lelucon Gus Dur yang "Menyentil" Hati...


Humor-humor dalam hidup Gus Dur banyak membawa pesan yang disaat itu kita tidak memahami namun kemudian ternyata memiliki makna mendalam terutama didalam menjaga kewarasan manusia di tengah pahitnya realita. Gus Dur tidak hanya menggunakan humor sebagai metode menjaga kewarasan, tetapi juga alat untuk melontarkan kritik terhadap pemerintahan ataupun kondisi yang terjadi di masyarakat. Alissa menilai ayahnya adalah sosok yang sangat cerdas karena memiliki spontanitas humor yang kaya akan makna. Ia kemudian sedikit bercerita mengenai beberapa guyonan Gus Dur yang jenaka, tetapi tetap penuh makna.

Sindir pemuka agama,

Suatu ketika, Gus Dur bercerita, di depan pintu surga, para pemuka agama tengah menunggu pintu surga dibuka. Mereka menunggu lama hingga akhirnya terjadi keributan di antara mereka tentang siapa sebetulnya umat yang akan dipilih oleh Tuhan untuk masuk surga. Namun, pintu surga tak kunjung terbuka. Lalu datang seorang yang berpakaian lusuh, jalannya agak sempoyongan kelihatannya mabuk, tetapi pintu surga langsung terbuka.

Malaikat mempersilakan orang itu masuk dan pintu surga tertutup lagi. Para pemuka agama protes, dan minta penjelasan dari malaikat. "Kenapa kok bisa begitu? Kami ini wakil Tuhan di bumi. Kami ini membawa ayat-ayat Tuhan, tetapi kami kok enggak dikasih masuk dari tadi? Sementara ada orang setengah mabuk penampilannya enggak menjanjikan malah langsung masuk," protes para pemuka agama. Malaikat kemudian menjawab dengan pertanyaan, "Coba para pemuka agama saya tanya, kalau sedang membawakan ayat-ayat tuhan, umatnya ngapain? Orang yang tadi masuk itu setiap hari membuat ratusan orang ingat Tuhan, mendekat pada Tuhan. Mengingat Tuhan, menghadirkan kembali Tuhan dalam kehidupan." "Kenapa? Karena dia ini seorang sopir Metro Mini di Jakarta. Karena dia ngebut, nyetir setengah mabuk, para penumpangnya ketakutan dan ingat Tuhan, mendekat pada Tuhan," lanjut sang malaikat. 

Sementara para pemuka agama membawa nama Tuhan, membawa ayat Tuhan, tapi begitu membosankannya dan jauh dari realita sehingga umatnya tidur kalau diceramahin. Alissa menjelaskan, makna dari humor bernada satire tersebut untuk menyindir pemuka agama yang terkadang lebih mementingkan predikat di masyarakat. Humor yang disampaikan Gus Dur juga sesuai dengan kondisi sosial yang ada di masyarakat. "Ketika Gus Dur melontarkan joke itu, itu lagi banyak sekali kecelakaan Metro Mini di Jakarta," ujar Alissa.

Kritik kondisi Indonesia,

Pada kesempatan yang lain, Gus Dur bercerita, ada presiden dari negara asing yang berusaha melucu di depan orang Indonesia dengan pidatonya yang panjang. Namun, penerjemahnya hanya menyampaikan beberapa kata, kemudian peserta tertawa. "Diterjemahkannya pendek, kok semua orang tertawa?" tanya presiden. "Iya itu di Indonesia soalnya," jawab salah satu orang dekatnya presiden tersebut. "Memang orang itu bilang apa?" lanjut presiden. "Kalian semua harus ketawa karena presiden tamu kita sedang melucu, yang tidak ketawa dihukum," jawab orang terdekat presiden. Menurut Alissa, humor itu berupa sindiran terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang hanya mengikuti perintah tanpa mengerti maksudnya.

Humor tentang intel,

Pada suatu masa, Gus Dur juga pernah bercerita, pada masa Orde Baru, hampir setiap acara yang didatangi Gus Dur selalu diawasi intel. Kala itu, Gus Dur tengah menghadiri pertemuan forum para kiai. "Nanti kita diskusinya dalam bahasa Arab, karena di sini ada intel," kata Gus Dur dalam sambutannya menggunakan bahasa Arab.

Setelah itu, acara diskusi pun benar-benar dilanjutkan menggunakan bahasa Arab. Si intel kemudian pulang dan melapor kepada komandannya. "Tadi membicarakan apa?" tanya komandan kepada si intel. "Tidak ada diskusi komandan, para kiai itu hanya saling mendoakan," jawab si intel. Alissa mengatakan, humor ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi Gus Dur yang dikemas menjadi humor.


 

Gus Dur diminta mundur dari presiden,

Suatu ketika, Gus Dur bercerita bahwa dirinya pernah diminta mengundurkan diri dari kursi kepresidenan. "Saya maju sendiri saja susah harus dituntun, ini disuruh mundur," jawab Gus Dur.

Humor celana dalam,

Suatu ketika, Gus Dur tengah berkuliah di Mesir. Ia berada di satu rumah kost di area mahasiswa Indonesia. Di sana, ada seorang mahasiswa baru datang dari Indonesia dan mereka melakukan sowan ke senior-seniornya, termasuk pada Gus Dur dan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. "Siapin wedang," kata Gus Dur kepada Gus Mus. Gus Mus kemudian memasak air dan Gus Dur masuk ke dalam kamar, lalu keluar dengan membawa celana dalam.

Gelas air yang dibawa Gus Mus dilap menggunakan celana dalam oleh Gus Dur di depan mahasiwa baru. Mahasiwa itu kebingungan dan merasa tidak enak jika tidak meminum air yang disediakan seniornya walaupun gelas itu telah dilap menggunakan celana dalam. Akhirnya, air itu tetap diminum oleh mahasiswa baru. Setelah mahasiwa baru itu pulang, Gus Mus bertanya kepada Gus Dur. "Itu tadi kok bisa celana dalam dipakai buat ngelap gelas?" tanya Gus Mus.

Gus Dur menjawab enteng, "Celana dalam itu kan kain, celana dalamnya masih baru, enggak pernah dipakai. Kepala kita saja kan, itu kan kain. Apa bedanya celana dalam yang masih baru dengan serbet? Wong enggak pernah dipakai, sama-sama kain. Kita ini sering terjebak pada bentuk".

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/23/09450841/lelucon-lelucon-gus-dur-yang-menyentil-hati?page=all#page2

Pandai-pandailah Menertawakan Diri Sendiri,

Seperti ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengibarkan bintang kejora. Banyak yang mengecam bendera OPM tersebut. Namun, Gus Dur mengatakan bahwa bendera-bendera tak ubahnya umbul-umbul. Cerita itu terjadi saat Jenderal TNI (Purn) Wiranto menjabat Menko Polkam. Wiranto melapor kepada Presiden Gus Dur terkait pengibaran bendera OPM, Bintang Kejora. “Bapak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora,” ujar Wiranto melapor.

Mendengar laporan tersebut, kemudian Gus Dur bertanya, “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?” tanya Gus Dur. “Ada hanya satu, tinggi,” ujar Wiranto sigap. Mendengar jawaban itu, Gus Dur kemudian menjawab, “Ya sudah, anggap saja bintang kejora itu umbul-umbul,” ujar Gus Dur santai. “Tapi Bapak Presiden, ini sangat berbahaya,” sergah Wiranto.

“Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul! Sepak bola saja banyak benderanya!” timpal Gus Dur. Di samping itu, tidak sedikit juga yang menolak keputusan Gus Dur karena mengizinkan kegiatan Kongres Papua yang identik dengan gerakan-gerakan makar. Namun bagi Gus Dur, keinginan masyarakat Papua harus ditampung. Hal ini yang tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah.

Justru kegiatan tersebut bisa menjadi sarana atau wadah bagi pemerintah RI untuk menampung aspirasi masyarakat Papua, juga sebagai sarana memberikan penjelasan terhadap program-program pemerintah. Bagi masyarakat Papua, kehadiran negara penting. Sebab itu, langkah Gus Dur untuk mewujudkan kerinduan masyarakat Papua akan kehadiran negara.

Kilas humor-humor Gus Dur tak lekang di makan zaman karena sarat konteks. Bahkan masyarakat bisa belajar banyak dari humor-humornya. Misal ketika di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terjadi konflik. Konflik ini seakan tak menemui titik ujung sehingga tidak sedikit menguras elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Diceritakan oleh Maman Imanulhaq dalam bukunya Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), cucu KH Hasyim Asy’ari tersebut tetap memperlihatkan optimisme tinggi kepada para kadernya. Mereka menyadari bahwa setiap konflik menyimpan banyak pendewasaan terhadap diri seseorang. Gus Dur memandang seluruh masalah dengan optimisme. Menurutnya, masalah itu dibagi menjadi tiga; ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada yang bisa diselesaikan tetapi lambat, dan ada yang tidak bisa diselesaikan. Sebab itu, serahkan semuanya kepada Allah, tawakaltu ‘alallah.

Gus Dur menegaskan bahwa yang benar ialah penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Karena kalau pemecahan, maka satu masalah bisa ‘pecah’ jadi beberapa masalah. Karenanya, kata Gus Dur, partai ini banyak dikatakan orang sebagai PKB, yaitu Partai Konflik Berkepanjangan. Seketika, orang-orang di sekelilingnya tertawa mendengar plesetan kepanjangan tersebut. Mereka memang sedih mendengarnya, tetapi campur bahagia karena salah satu keistimewaan Gus Dur ialah mampu menertawakan kekurangannya sendiri, yaitu yang ada dalam partai yang didirikannya Sudahkah.

Dalam kesempatan lain, salah seorang sahabat Gus Dur di Forum Demokrasi Romo Franz Magnis Suseno kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi. Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan pada 23 Juli 2001, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana. Di istana ada putri Gus Dur yang senantias setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid.

Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah. Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur. Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu.

Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional. Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan joke: “Saya disuruh mundur? Maju saja masih dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa kawan-kawannya itu. (Baca: Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa, 2017).

Gus Dur lihai memainkan humor penertawaan diri sendiri yang juga kerap mampu membuat orang lain tersadar. Hal itu sekaligus mencairkan ketegangan lewat humor. Ketegangan yang disebabkan oleh problem kehidupan politik, sosial, budaya, bangsa, negara, dan agama. Lewat leluconnya, Gus Dur mengajak kepada masyarakat agar mewujudkan kehidupan yang seimbang dan bermakna. Seperti yang Gus Dur katakan dalam kata pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, serta kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.

https://islam.nu.or.id/post/read/100772/belajar-menertawakan-diri-sendiri-ala-gus-dur

 


Komentar

Opini

RAMALAN GUS DUR SOAL SOEHARTO HINGGA JOKOWI TERBUKTI MUJARAB! BAGAIMANA KE AHOK? MUNGKINKAH TERWUJUD?

Inilah Wajah Jalan Kemajuan Dari Lampung Ke Aceh,

]] Mengenang Kembali ; “ Kisah Duka, Dalam Wafatnya Soekarno”,