Indonesia Rumah Kita Bersama,

Indonesia adalah bangsa majemuk, terdiri dari beragam suku bangsa, agama, budaya dan bahasa, yang tersebar diribuan pulau dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga pulau Rote. Kemajemukan inilah yang menyatukan kita dalam satu rumah bersama bernama INDONESIA, sebagai karakter autentik bangsa yang telah menjadi penenun kebangsaan yang ditelah diperjuangkan para leluhur bangsa, bukan sebaliknya dieksploitasi untuk dijadikan pemicu perbecahan.


Sepatutnya kita berbangga bahwa keberagaman berbasis Pancasila lebih memperkuat corak keberagaman itu sendiri untuk dijadikan sebuah pondasi kokoh “Indonesia Rumah Kita Bersama,” dalam menghadapi tantangan generasi bangsa dimasa mendatang.Tapi anehnya, justru rumah besar kita bersama mulai dihantui ketakutan, kecemasan bahkan perpecahan sesama penghuni rumah besar bernama Indonesia dengan munculnya sekelompok orang yang sudah kerasukan agama yang di balut dengan ideologi dan paham bukan warisan nenek moyang kita!

Ideologi dan falsafah holistik sebagai cerminan keberagaman “Rumah Besar Bernama Indonesia” yang terus kita perjuangan bersama dalam memperkokok semangat toleransi, dan fluralisme dengan memegang teguh prinsip kebersaman dalam saling asah, asih dan asuh yang dilandasi dengan semanga gotong royong yang tinggi dalam bingkai “Bhinneka Tunggal Ika”, justru mulai terkoyak.

Selain terkoyak juga tercoreng bahkan terlukai dengan muncul kelompok-kelompok intoleran mengepung kita dengan menggunakan simbol agama yang sengaja dimunculkan oleh sekelompok orang tertentu hendak merusak warna warni dalam tatanan dan peradaban berbangsa dan bernegara.

Sikap mereka jelas, ingin memaksakan diri merubah konstitusi “ Indonesia dalam rumah kita bersama “. Mereka tidak lagi melihat warisan nilai-nilai luhur yang sudah menjadi harga mati dalam berbangsa dan bernegara. Mereka tidak lagi melihat para leluhur yang memiliki jejak sejarah didalam memerdekaan Indonesia dari kaum kolonial. Hanya dengan ambisi kepentingan kekuasaan dan pragmatisme lalu mencoba melakukan pengkhianatan dan pengkotoran terhadapi mayoritas bangsa ini.

Dahsyatnya indoktrinasi mereka lakukan membuat sebagaian kecil generasi bangsa ini kehilangan arah bahkan tersesat akhirnya menjadi korban gerakan puritanisme agama yang telah menancap di otak mereka. Dan semua ini bisa saja menjadi kaki tangan2 kroni-kroni dari orang-orang yang sudah puluh tahun lamanya menikmati kekayaan negeri ini, bekerjasama dengan kepentingan asing yang ingin menguasai kembali harta karun yang dimiliki negeri ini dengan cara melakukan politisasi agama dan mendelegitimasi pemerintahan yang sah.

Tujuannya agar terjadi instabilitas sehingga berpotensi negeri ini menjadi porak poranda! semoga ini tidak terjadi, dan ini jika dibiarkan terus berkembang, jelas akan menimbulkan perpecahan sesama anak-anak bangsa dalam “ Rumah Besar Bernama Indonsia”. Sikap pemerintah beserta Ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sangat jelas menolak segala bentuk kekerasan dan intoleransi yang berkedok agama, begitu halnya Bapak Presiden Jokowi seperti yang tertuang didalam program Nawacitanya. 

Hanya disayangkan dalam tahapan proses pelaksanaan hukumnya sering kali berbeda dalam menerjemahkan perintah oleh aparat penegak hukum. Sehingga kedepan tidak ada pilihan lain kecuali menyatukan mindset yang sama didalam mengimplementasi penegakan hukum yang tegas agar tidak lagi terjadi distorsi hukum.

Dan terakhir, sebagai anak bangsa yang mencintai kedamaian dinegeri ini berharap agar masalah intoleransi ini menjadi hal yang prioritas pemerintahan Jokowi untuk segera dituntaskan dengan sisa waktu empat tahun kedepan, sebelum masa pemerintahan Bapak Jokowi berakhir. Tentu saja dengan cara pendekatan hukum yang tegas bukan penyelesaian politis ataupun teologis lagi demi terciptanya kedamaian di negeri yang sama-sama kita cintai.**

Komentar

Opini

KERIS JAWA DI MASA DAMAI,

Puisi - Puisi Trisa,

SOSOK SRIKANDI INDONESIA YANG MENDUNIA